HARIANSUMEDANG.COM – Karena sinar matahari di Kutub Selatan Bulan menyapu permukaan secara horizontal, sinar tersebut menyentuh tepian kawah, tetapi tidak selalu mencapai dasarnya.
Beberapa kawah yang dalam tidak pernah disinari matahari selama miliaran tahun, sehingga suhu di sana dapat turun hingga minus 334 F.
Itu hampir tiga kali lebih dingin daripada suhu terendah yang tercatat di Antartika. Di sisi ekstrem lainnya, area yang terkena sinar matahari langsung, seperti tepian kawah, dapat mencapai suhu 130 F.
Tampilan animasi Bumi yang muncul di bawah cakrawala seperti yang terlihat dari Kutub Selatan Bulan. Visual ini dibuat menggunakan peta elevasi digital dari altimeter laser LRO, LOLA.
Tidak seperti Bumi, Bulan tidak memiliki atmosfer tebal yang dapat menyebarkan cahaya biru, sehingga langit pada siang hari berwarna hitam. Astronot akan melihat kontras yang mencolok antara langit yang gelap dan tanah yang terang.
Pemandangan Bulan dari atas, dimulai dengan warna alami dari kejauhan dan berubah menjadi elevasi berkode warna saat kamera mendekat. Visual tersebut menangkap medan kasar di area Kutub Selatan bulan.
Visual ini mencakup kunci warna dan bilah skala animasi. Visual ini dibuat menggunakan peta elevasi digital dari altimeter laser NASA LRO, LOLA.
Para penjelajah bulan Artemis akan menemukan bentang alam terjal yang memerlukan keterampilan untuk melintasinya.
Bulan memiliki gunung, lembah, dan ngarai, tetapi fitur yang paling menonjol bagi para astronot di permukaannya mungkin adalah jutaan kawahnya.
Baca Juga:
Sertijab Kepala Desa Cipelang Kecamatan Ujungjaya Harapan Baru untuk Desa yang Lebih Maju
Kementerian Luar Negeri: 32 WNI Berhasil Dievakuasi dari Iran, Sebagian Kini Sudah Tiba di Indonesia
Di dekat Kutub Selatan, kawah yang menganga dan bayangan yang panjang akan menyulitkan para astronot untuk bernavigasi.
Namun, dengan pelatihan dan perlengkapan khusus, para astronot akan siap menghadapi tantangan tersebut. Sumber : nasa.gov (Tatang Tarmedi) ***







