Table of Contents
ToggleMempererat Kekeluargaan, Meneguhkan Perdamaian: Catatan Kunjungan Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Paris
SUMEDANG24JAM — Di tengah dinamika geopolitik global yang penuh ketidakpastian, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan rangkaian kunjungan kenegaraan yang sarat makna di Paris, Prancis. Lawatan kali ini tidak hanya memperkokoh jalinan diplomatik dan kemitraan strategis di level tertinggi pemerintahan, namun juga menyentuh akar rumput melalui kebersamaan yang hangat bersama diaspora Indonesia di tanah rantu.
Kedekatan Tanpa Jarak: Iduladha di Wisma Indonesia
Rangkaian kegiatan Presiden Prabowo di Paris dimulai dengan momen emosional yang penuh kebersamaan. Pada Rabu (27/5), Pemimpin berkepala peci hitam itu melaksanakan ibadah salat Iduladha 1447 Hijriah bersama warga negara Indonesia (WNI) dan diaspora di Wisma Indonesia, Paris.
Tiba sekitar pukul 08.40 waktu setempat diiringi gemuruh takbir dan tahmid, kehadiran Presiden Prabowo langsung disambut hangat oleh saf jemaah yang telah memadati area sejak pagi hari. Pelaksanaan salat yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin oleh imam dan khatib Fakhruddin Arrozi, seorang dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan lulusan Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan.
Momen ini meninggalkan kesan mendalam bagi para diaspora. Dini Indriyani, yang telah bermukim di Paris selama 15 tahun, mengaku merasakan kebahagiaan berlipat.
“Salat bersama Pak Presiden itu benar-benar merasa seperti salat bersama keluarga besar Republik Indonesia,” ungkap Dini penuh haru.
Hal senada disampaikan oleh Azrina, serta dua diaspora muda, Shafa dan Jelita, yang mengaku gugup sekaligus bangga bisa bersalaman langsung dengan orang nomor satu di Indonesia tersebut setelah biasanya hanya melihat lewat layar kaca.
Dalam kesempatan ini, Presiden turut didampingi oleh putra semata wayangnya, Ragowo “Didit” Hediprasetyo, Menteri Investasi dan Hilirisasi/CEO Danantara Rosan P. Roeslani, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Sambutan Agung Militer di Les Invalides
Melanjutkan agenda resminya, pada Kamis (28/5) pukul 15.30 waktu setempat, atmosfer kunjungan berubah menjadi penuh kemegahan seremonial. Pemerintah Prancis menyambut kehadiran Presiden Prabowo dengan upacara penghormatan militer resmi di halaman Les Invalides, Paris.
Mengenakan setelan jas abu-abu dipadu peci hitam, Presiden Prabowo disambut langsung oleh Perdana Menteri Prancis, Yang Mulia Sébastien Lecornu. Di bawah langit Paris, lagu kebangsaan Indonesia Raya bergema agung, disusul oleh lagu kebangsaan Prancis, La Marseillaise.
Dalam prosesi ini, Presiden Prabowo memperkenalkan delegasi tingkat tinggi Indonesia yang mendampinginya, antara lain:
-
Menteri Luar Negeri Sugiono
-
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P. Roeslani
-
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto
-
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya
-
Duta Besar RI untuk Prancis Mohamad Oemar
-
Putra Presiden, Didit Hediprasetyo
Usai perkenalan delegasi, Presiden Prabowo menaiki kendaraan komando militer Prancis untuk melakukan inspeksi pasukan kehormatan. Penghormatan tertinggi ini kemudian ditutup dengan iring-iringan kendaraan kepresidenan yang bergerak menuju Istana Élysée, dikawal meriah oleh 146 pasukan berkuda dan 27 personel motoris Prancis.
Kemitraan Strategis di Istana Élysée: Dari Ekonomi hingga Solusi Dua Negara
Puncak dari kunjungan kenegaraan ini adalah pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée. Pertemuan ini melahirkan komitmen kuat kedua negara yang kini berada dalam level hubungan terbaiknya (Comprehensive Strategic Partnership).
1. Komitmen Perdamaian Global dan Isu Palestina
Di tengah tensi geopolitik dunia, kedua kepala negara sepakat bahwa perdamaian adalah harga mutlak. Secara khusus, Presiden Prabowo menegaskan kesamaan pandangan antara Indonesia dan Prancis terkait konflik Palestina-Israel, yakni melalui implementasi solusi dua negara (two-state solution).
“Indonesia tetap berpandangan tidak mungkin ada perdamaian di Timur Tengah tanpa solusi dua negara dan tanpa keadilan bagi rakyat Palestina,” tegas Prabowo, sembari mengapresiasi Prancis sebagai salah satu pelopor di Barat yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.
2. Penguatan Kerja Sama Ekonomi dan Forum Bisnis
Untuk mengonkretkan hubungan ekonomi, kedua pemimpin menyambut baik pembentukan France-Indonesia High Level Business Council. Forum bisnis tingkat tinggi ini dirancang untuk menggenjot investasi dan memperluas keterlibatan perusahaan-perusahaan Prancis dalam proyek pembangunan nasional di Indonesia. Kerja sama ini juga didorong melalui percepatan penyelesaian perjanjian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
3. Sektor Energi, Pendidikan, dan Budaya
Selain pertahanan dan energi bersih, sektor pendidikan menjadi sorotan dalam pertemuan ini. Sebagai langkah nyata mempererat hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact), Presiden Prabowo mengumumkan bahwa dirinya telah menginstruksikan pengajaran bahasa Prancis di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.
Hubungan di Level Terbaik
Sebagai simbol pengakuan atas kedekatan historis dan strategis ini, Presiden Prabowo mengungkapkan rasa hormatnya atas undangan Prancis kepada Indonesia untuk berpartisipasi dalam Parade Militer Tahunan (Defile) memperingati Hari Nasional Prancis (Bastille Day) pada 14 Juli tahun depan. Kehadiran ini disinyalir akan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara Asia pertama yang mendapatkan kehormatan berparade di defile benua Eropa tersebut.
“Di keadaan global yang penuh ketidakpastian, penuh ketegangan, penuh konflik, kedua negara kita bisa memainkan suatu peranan yang positif. Hubungan Indonesia dan Prancis berada di tingkat, menurut saya, yang terbaik,” pungas Presiden Prabowo menutup pernyataannya. (Tatang Tarmedi) ****









