SUMEDANG – Beberapa tradisi yang dulu menjadi ciri khas menjelang idul fitri sekarang seperti sirna ditelan bumi.
Terutama di Sumedang, ada yang disebut Damar Sewu. Sebuah tradisi menyalakan obor pada malam-malam lailatulqodar.
Obor yang digunakan, bukan ilaharnya obor, namun obor berasal dari satu ruas bambu yang diberi beberapa lubang.
Ruas bambu tadi diberi minyak tanah dan lubang-lubangnya disumpal kain untuk sumbu, hingga minyak meresap ke kain.
Ketika disulut, menyala beberapa titik api obor pada satu ruas bambu itu. Damar sewu itu digantung di depan rumah.
Penggantungan Damar Sewu dilakukan pada malam “lilikuran”, atau dari mulai hari ke 20 berpuasa hingga malam takbiran.
Suasana malam tampak menenangkan, kadang bagi anak-anak suka dijadikan ajang bermain di halaman ( buruan, Sunda).
Serasinya tradisi itu ketika Damar Sewu digantung di depan rumah panggung dengan memiliki teras gantung dari bambu.
Masyarakat Sunda dulu berkeyakinan dengan memasang Damar Sewu di depan rumah bisa menjemput keberkahan malam lailatulqodar.
Baca Juga:
Diaspora Tionghua Dunia Gelar Ritual Bersama Menghormati Kaisar Kuning Xuanyuan di Henan
Thunes Luncurkan Pembayaran di Waktu Nyata ke Selandia Baru
Zihan Syaira Harumkan Nama Ujungjaya Lewat Prestasi Renang O2SN 2026 Bersiap Unjuk Gigi di Sumedang
Tradisi Damar Sewu, kini tinggal sebuah nama yang hampir sirna. Tradisi itu telah lama hilang mengikuti jejak-jejak tradisi lainnya yang duluan terkubur.
Tradisi-tradisi yang unik jaman baheula, sekarang berubah jadi tradisi masa kini yang mengundang estetika namun merusak gendang telinga.
Kesenyapan malam yang penuh makna dan berhias remang-remang damar, berubah menjadi kebisingan di langit dan derak-derak petasan.
Dulu suasana – suasana malam menjelang lebaran hampir rata begitu penuh dengan ketenangan dan kemakmuran.
Baca Juga:
HUT Sumedang ke-448: BAZNAS Gandeng Ojol Sumedang, 300 Driver Terima Oli Gratis dari Bupati
Musim Mas Resmikan Smart Class di UINSU, Dukung Pembelajaran Digital dan Generasi Unggul 2045
Tapi kini, kemakmuran jelang lebaran itu kebanyakan hanya dirasakan orang-orang pekerja negara saja dan swasta.
Sementara penguntai mutiara kata-kata untuk keharuman negara banyak yang berurai air mata… ( Tatang Tarmedi ) ***









