CONGGEANG – Bendungan Cipanas yang terletak di wilayah Conggeang dan Ujungjaya di satu sisi menyisakan ganti rugi lahan yang belum tuntas; namun di sisi lain, menjadi “tambang emas” baru bagi para pencari ikan.
Hingga saat ini, sejumlah warga terdampak di area genangan masih memperjuangkan sisi kelam mereka. Masalah administrasi, sengketa lahan, hingga nilai kompensasi yang dianggap belum sesuai.
Bagi sebagian warga, bendungan bukan hanya soal infrastruktur, melainkan hilangnya ruang hidup dan mata pencaharian tetap sebagai petani.
“Air sudah naik, tapi urusan uang ganti rugi belum sepenuhnya beres,” ungkap salah satu perwakilan warga yang masih menunggu kepastian.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan suasana di tepian bendungan. Sejak air mulai menggenang luas, Bendungan Cipanas berubah menjadi magnet bagi para pemancing dan penjala ikan, baik dari warga lokal maupum luar daerah.
Ekosistem baru ini memicu ledakan populasi ikan air tawar seperti nila, mujaer, dan gabus, munculnya warung-warung dadakan dan jasa sewa perahu rakit bagi para pemancing.
Mereka para pendulang rezeki dari bendungan, mampu membawa pulang puluhan kilogram ikan dalam sehari, yang kemudian dijual langsung kepada konsumen dan akhirnya jadi nafkah.
Keindahan dan manfaat ekonomi dari sumber daya air yang melimpah seharusnya berjalan beriringan dengan penyelesaian hak-hak dasar masyarakat yang terdampak secara adil. ( Teguh ) ***







