Menerjang Hujan dan Ombak Demi Nyawa: Perjuangan Bidan Vera di Pesisir Langkat

- Pewarta

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

HARIAN SUMEDANG  — Bagi sebagian orang, hujan deras dan hempasan ombak adalah petunjuk untuk berdiam diri di dalam rumah. Namun bidan Vera Leli Septiana Boru Manullang, badai di laut justru menjadi panggilan tugas yang tak bisa ditawar, meski nyawanya sendiri yang menjadi taruhan.

Vera adalah seorang bidan di Puskesmas Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat. Mengabdi di daerah terpencil sebagai tenaga honorer hingga kini berstatus PPPK Paruh Waktu telah menempa mentalnya. Namun, keteguhan hatinya benar-benar diuji pada Kamis (30/7/2026).

Hari itu, seorang pasien dalam kondisi kritis membutuhkan penanganan darurat dan harus segera dirujuk ke RS Bidadari Mahkota Gebang. Dengan cairan infus yang sudah terpasang, pasien harus segera dievakuasi. Masalahnya, jalan darat lumpuh total diterjang hujan deras.

Satu-satunya jalan keluar adalah menerobos laut menggunakan perahu kecil.

Bertaruh Nyawa di Tengah Badai

Perjalanan laut yang semula diharapkan lancar berubah menjadi mimpi buruk. Ombak tinggi berulang kali menghantam perahu kayu yang mereka tumpangi hingga terhempas ke tepi. Cuaca kian memburuk—hujan lebat mengguyur disertai dentuman petir yang menyambar. Air laut yang mendadak surut kian menyulitkan perahu untuk bergerak.

Dalam situasi mencekam itu, komunikasi terputus. Sinyal telepon seluler menghilang di tengah lautan.

“Kami sempat meminta bantuan, tetapi sinyal sangat sulit didapat. Begitu ada sinyal sebentar, bantuan yang diharapkan tak kunjung datang. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap terobos demi keselamatan pasien,” kenang Vera.

Meskipun rasa takut menyergap, Vera dan tim menolak menyerah. Rasa dingin yang menusuk tulang dan pakaian yang basah kuyup tak menghalangi fokus mereka untuk menjaga kondisi pasien agar tetap stabil.

Menembus Lumpur hingga Terluka

Perjuangan belum selesai saat bantuan perahu jemputan dari Kepala Puskesmas akhirnya tiba. Pesisir pantai yang dangkal dan berlumpur tebal memaksa mereka turun dari perahu. Tanpa pikir panjang, empat orang dalam rombongan—termasuk Vera—saling bergantian menggendong pasien menembus lumpur pekat agar bisa mencapai ambulans rujukan.

Pasien akhirnya berhasil diselamatkan dan mendapat perawatan medis tepat waktu.

Namun, saat ketegangan mulai mereda, Vera baru menyadari rasa nyeri hebat di kakinya. Di tengah kepanikan menembus lautan dan lumpur, kakinya terluka akibat tersengat atau tergores benda laut berbisa. Bidan yang berjuang menyelamatkan orang lain itu pun akhirnya harus merawat dirinya sendiri di ruang perawatan rumah sakit.

Bisikan Harapan dari Pesisir Terpencil

Bagi Vera, luka di kakinya hanyalah cermin kecil dari besarnya pembiaran terhadap fasilitas kesehatan di daerah terpencil. Kejadian mencekam seperti ini bukan kali pertama terjadi, melainkan rutinitas yang terpaksa ditelan oleh warga dan tenaga medis di Pangkalan Siata.

Minimnya Puskesmas Pembantu (Pustu), buruknya akses jalan, hingga tiadanya jaringan komunikasi kerap menjadi dinding tebal antara hidup dan mati bagi pasien yang membutuhkan penanganan cepat.

“Saya membagikan kisah ini bukan untuk dipuji, tapi karena kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi. Saya berharap ada perhatian nyata dari pemerintah—akses jalan dibangun, sinyal diperbaiki, dan fasilitas kesehatan dilengkapi—agar warga di daerah terpencil bisa berobat dengan aman,” tutur Vera penuh harap.

Kisah Bidan Vera adalah pengingat bahwa di balik megahnya pelayanan kesehatan di kota-kota besar, masih ada pahlawan-pahlawan sunyi di ujung negeri yang harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk mengantarkan seorang pasien berobat. ( Dari Sumber Mitra )

Berita Terkait

Unik! Pohon Kelapa “Menjelajah” Tanah Sebelum Menjulang Tinggi di Tanjungsari Sumedang
Semarak HUT Kemerdekaan RI ke -81 Pemerintah Gelar Pesta Rakyat di Monas hingga Rangkaian Agenda Bulan Kemerdekaan
Meniti Ridho di Antara Berkas Desa dan Gema Masjid Nurul Huda
SMAN 1 Sumedang Gelar Sosialisasi Komunitas Belajar “Kombel Adinira Digjaya” untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Bilik Reuni Kecil untuk Kang Edeng Sitarya: Lulusan SPMA yang ‘Menyimpang’ Jadi Nahkoda MKKS Sumedang
Tak Surut Digerus Usia: Perjuangan Tanpa Henti “Dewa Geulis” Menjaga Hijau Gunung Geulis
Bila Komposisi Ini Dipakai, Persib Bisa Jadi Tim Menakutkan di Liga Super 2026/2027
Jatnika Kepala Sekolah Rasa Seniman, Dinding Gersang SMPN 9 Jadi “Galeri” Anti-Bullying

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:57 WIB

Unik! Pohon Kelapa “Menjelajah” Tanah Sebelum Menjulang Tinggi di Tanjungsari Sumedang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:43 WIB

Menerjang Hujan dan Ombak Demi Nyawa: Perjuangan Bidan Vera di Pesisir Langkat

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Semarak HUT Kemerdekaan RI ke -81 Pemerintah Gelar Pesta Rakyat di Monas hingga Rangkaian Agenda Bulan Kemerdekaan

Kamis, 30 Juli 2026 - 06:07 WIB

Meniti Ridho di Antara Berkas Desa dan Gema Masjid Nurul Huda

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:50 WIB

SMAN 1 Sumedang Gelar Sosialisasi Komunitas Belajar “Kombel Adinira Digjaya” untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Berita Terbaru