Unik! Pohon Kelapa “Menjelajah” Tanah Sebelum Menjulang Tinggi di Tanjungsari Sumedang

- Pewarta

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pohon kelapa tersebut memiliki batang bagian bawah yang tumbuh mendatar sejajar dengan permukaan tanah dalam jarak yang cukup panjang, sebelum akhirnya menekuk tajam hampir 90 derajat dan tumbuh tegak lurus ke atas

Pohon kelapa tersebut memiliki batang bagian bawah yang tumbuh mendatar sejajar dengan permukaan tanah dalam jarak yang cukup panjang, sebelum akhirnya menekuk tajam hampir 90 derajat dan tumbuh tegak lurus ke atas

HARIAN SUMEDANG , – Sebuah fenomena alam yang unik dan langka menarik untuk dikaji di sini.  Sebuah pohon kelapa (Cocos nucifera) yang tumbuh di Kampung Cipeles Desa Gunungmanik Kecamatan Tanjungsari ditemukan tumbuh dengan formasi batang yang sangat tidak biasa, berbeda dari pohon kelapa pada umumnya.

Pohon kelapa tersebut memiliki batang bagian bawah yang tumbuh mendatar sejajar dengan permukaan tanah dalam jarak yang cukup panjang, sebelum akhirnya menekuk tajam hampir 90 derajat dan tumbuh tegak lurus ke atas. Fenomena ini menciptakan pemandangan visual yang mencolok, seperti jembatan alami yang menjulur di atas hamparan vegetasi hijau di bawahnya.

Analisis Ilmiah: Mengapa Pohon Tumbuh Bengkok?

Meskipun terlihat aneh, pertumbuhan seperti ini bukanlah keajaiban, melainkan respons biologis pohon terhadap lingkungannya. Berdasarkan kajian botani, fenomena ini dapat dijelaskan melalui mekanisme tropisme dan faktor lingkungan:

1. Respons Gravitropisme (Geotropisme) yang Terganggu: Pohon pada umumnya tumbuh tegak lurus ke atas menjauhi pusat gravitasi (gravitropisme negatif) dan menuju cahaya (fototropisme). “Kemungkinan besar, pada tahap awal pertumbuhannya, pohon ini mengalami gangguan yang menyebabkan batangnya rebah atau tumbuh mendatar,”

Meskipun dalam posisi mendatar, bagian ujung tunas pohon kelapa (titik tumbuh) tetap mempertahankan sifat gravitropisme negatifnya. Bagian ini berusaha keras untuk kembali tumbuh lurus ke atas. Proses ini disebut sebagai gravitropisme sekunder yang bekerja seiring waktu, menciptakan tekukan tajam yang kita lihat sekarang. Batang yang mendatar pada akhirnya mengeras dan menjadi bagian permanen dari pohon.

2. Strategi Beradaptasi untuk Mencari Cahaya (Fototropisme): Pohon tumbuh mendatar juga bisa jadi merupakan cara pohon tersebut untuk menghindari bayangan dari pohon-pohon besar yang sudah ada di dekatnya dan menjangkau area dengan intensitas cahaya matahari yang lebih baik. Setelah mencapai lokasi yang cukup terang, pohon tersebut kembali mengarahkan pertumbuhannya ke atas.

3. Ketahanan Alami Batang Kelapa: “Batang kelapa dikenal memiliki serat yang sangat kuat dan fleksibel, yang memungkinkannya bertahan dalam posisi ekstrem seperti ini tanpa patah,” tambah Budi Santoso. Kekuatan mekanis inilah yang memungkinkannya untuk terus hidup dan tumbuh ke atas, bahkan setelah mengalami gangguan struktural yang parah.

Fenomena “Pohon Kelapa Mendatar” ini  menjadi bukti nyata dari daya juang dan adaptasi luar biasa dari makhluk hidup dalam menghadapi tantangan lingkungan. Pemandangan ini juga menjadi objek foto yang menarik bagi para pencinta alam dan fotografer.

Bagi para ilmuwan, keberadaan pohon kelapa abnormal ini bisa menjadi materi studi lapangan yang menarik untuk memahami lebih dalam tentang plastisitas pertumbuhan tanaman dan bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. (Peliput : Tatang Tarmedi)

Berita Terkait

IRI Indonesia Ajak Gereja di Papua Barat Daya Jadikan Mimbar sebagai Suara Perlindungan Hutan Papua
Peringatan Maulid Nabi 1448 H: Momentum Penguatan Karakter dan Akhlak Mulia Peserta Didik
SMPN 1 Wado Terapkan Teknologi Pembakaran Sampah dengan Uap Air
Gegara 1,5 Ton Ikan dan Uang Terbang: Kolam Al Kamil Sumedang Mendadak Penuh Sesak ‘Manusia Air’
Menavigasi Masa Depan Jurnalisme: Antara Akselerasi Otomatisasi dan Reimajinasi Profesi
Eksistensi Dodol Ibu Kita khas Tanara: Menjaga Resep Warisan di Tengah Gempuran Jajanan Modern
Istana Bunga Plastik Sumedang Hadirkan Solusi Dekorasi Meja Kerja Elegan dan Terjangkau
Menerjang Hujan dan Ombak Demi Nyawa: Perjuangan Bidan Vera di Pesisir Langkat

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 20:40 WIB

IRI Indonesia Ajak Gereja di Papua Barat Daya Jadikan Mimbar sebagai Suara Perlindungan Hutan Papua

Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Peringatan Maulid Nabi 1448 H: Momentum Penguatan Karakter dan Akhlak Mulia Peserta Didik

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:58 WIB

SMPN 1 Wado Terapkan Teknologi Pembakaran Sampah dengan Uap Air

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Gegara 1,5 Ton Ikan dan Uang Terbang: Kolam Al Kamil Sumedang Mendadak Penuh Sesak ‘Manusia Air’

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:45 WIB

Menavigasi Masa Depan Jurnalisme: Antara Akselerasi Otomatisasi dan Reimajinasi Profesi

Berita Terbaru

Pers Rilis

Huawei Cloud Stack: “All for AI”, Era Baru Teknologi Cerdas

Jumat, 18 Sep 2026 - 16:42 WIB