SUMEDANG – Dalam kurun tiga tahun terakhir, SMP Negeri 2 Tanjungsari menjelma menjadi salah satu sekolah menengah pertama paling diperbincangkan di Kabupaten Sumedang. Di bawah nakhoda Sudrajat, yang telah memimpin selama hampir empat tahun, sekolah ini tidak sekadar mencetak prestasi akademik, tetapi juga berhasil membangun reputasi yang melesat hingga ke kancah internasional.
Transformasi itu berakar dari identitasnya sebagai Sekolah Berketahanan Iklim (SBI). Konsep SBI yang dihidupkan Sudrajat menjadikan SMPN 2 Tanjungsari sebagai laboratorium hidup bagi pendidikan adaptif lingkungan. Tak heran, ruang kelas dan halaman sekolah ini kini rutin disinggahi rombongan studi banding. Mereka datang bukan hanya dari pelosok Jawa Barat, melainkan juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan institusi pendidikan luar negeri yang ingin menyerap praktik baik sekolah berbasis iklim.
Di balik gemuruh kunjungan dan pujian, Sudrajat menyimpan satu kunci yang jarang diumbar: kedekatannya dengan insan pers. Kepala sekolah asal Desa Serang, Cimalaka, itu meyakini bahwa setiap langkah kecil sekolah layak mendapat ruang di ruang publik. Program sekecil apa pun, mulai dari aksi penghijauan, bank sampah digital, hingga kelas literasi iklim, selalu ia dorong untuk terdokumentasi dan terpublikasi di berbagai media. Baginya, transparansi adalah jembatan kepercayaan antara sekolah dan masyarakat.
Hasilnya terasa nyata di ranah digital. Ketika kata kunci “SMP Negeri 2 Tanjungsari” atau “Sekolah Berketahanan Iklim” diketik di mesin pencari, nama SMP Negeri 2 Tanjungsari nyaris selalu bertengger di posisi teratas. Lebih dari seratus pemberitaan tentang sekolah ini terekam di Google, tersebar di portal berita daring lokal hingga nasional. Dominasi di jagat maya itu bukan kebetulan, melainkan buah dari konsistensi mengabarkan kerja-kerja pendidikan secara terbuka dan berkelanjutan.
Kini, SMP Negeri 2 Tanjungsari bukan hanya kebanggaan warga Tanjungsari, tetapi juga menjadi etalase bagi Sumedang dalam hal inovasi sekolah. Sudrajat membuktikan bahwa kepemimpinan yang merangkul media mampu mengubah sekolah di pinggiran menjadi magnet pembelajaran. Di tangannya, prestasi tidak lagi cukup dicatat di papan pengumuman sekolah, tetapi harus bergema, menginspirasi, dan mengakar di ingatan publik. ( Tatang Tarmedi ) ****








