JATIGEDE – Masyarakat Desa Karedok Kecamatan Jatigede kembali gelar tradisi Ngarot, kali ini yang ke 124, berlangsung di Alun-Alun Desa, Rabu (24/9/2025).
Tradisi ini diantaranya diisi ritual penyembelihan seekor kerbau jam 02 .00 dini hari, kepala kerbau tadi dikuburkan dijadikan tumbal “hajat bumi”.
Ritual itu sendiri disaksikan oleh tokoh masyarakat, tokoh adat dan Agama, pemuda dan elemen-elemen lainnya dan kalangan masyarakat umum.
Kades Karedok, Waluyo, mengungkapkan acara Ngarot bentuk hajat warga Desa Karedok sebagai rasa syukur telah dikaruniai hasil bumi, khususnya para petani,
” Karena ini hajat masyarakat, sudah barang tentu segalanya termasuk pengisi acara dan pembiayaan dihandle oleh masyarakat dan desa, ” ungkap Kades Waluyo.
Rangkaian persiapannya, imbuh Kades, dimulai tanggal 19-20, pembuatan panggung, pagelaran seni dan pameran hasil bumi tanggal 21, Opsih di jalan desa dan jalan lingkungan tanggal 22.
Karnaval Budaya tanggal 23 , pemasangan gantungan pameran hasil bumi Jam 14-nya, Ngagogo (Marak) tanggal 24, meuncit Munding tanggal ,24 Siang, malamnya pagelaran seni tradisional (tayuban) ,dan ritual Salametan/ Hajatan
Tradisi itu juga disaksikan Pakar Antropologi Budaya dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Dr .H.Cahya Hedy ,S.Sen.,M.Hum , Ketua KDS Sumedang Andi Lesmana.
Hadir juga Camat Jatigede Engkos Koswara,S.Sos.,M.Si Kapolsek yang diwakili Bambang dan perwakilan Danramil, pihak Disbudpora diwakili Suhadi.
Baca Juga:
Bupati Sumedang Bakar Semangat 1.007 Mahasiswa Baru UNSAP dan STAI Sumedang
Tiga Kejadian Kebakaran Lahan di Tanjungsari Dilumpuhkan Tim Gabungan
Kades Waluyo mengucapkan terima kasih kepada hadirin yang telah hadir dalam acara Ngarot Desa Karedok yang ke -124 tahun 2025. Kades menuturkan, acara Ngarot ini telah berjalan dari tahun 1900.
Pernah, katanya, di tahun 1904 ritual dilaksanakan, namun tidak menyembelih kerbau, konon Desa Karedok dilanda banyak musibah, termasuk kepala desanya waktu itu meninggal.
Kades juga menyebut beberapa pantangan yang masih berlaku di Desa Karedok, misalnya pantangan bertanam singkong, tembakau , kacang
tanah dan bawang.
Selain pantangan-pantangan tersebut, sambung Kades Waluyo, di Karedok juga dipantang hiburan dengan wayang , baik golek maupun kulit, bangunan katalahab.
Baca Juga:
CHiQ Tampil di IFA 2026: Dari Ekspansi Global Menuju Jangkauan yang Kian Kuat di Pasar Lokal
Demi Karir Anak, Johan Nekad Jalan Kaki Pemalang – Jakarta
CHiQ Raih “AI Home Ecosystem Brand Award”, Hadirkan Pengalaman Gaya Hidup Cerdas Lewat Inovasi AI
” Semoga dengan terlaksananya ritual ini Desa Karedok terhindar dari bencana dan masyarakatnya sejahtera, subur makmur, ” harapnya.
Sementara itu, Engkos Koswara,S.Sos selaku Camat Jatigede memberikan apresiasi kepada Kepala Desa Karedok beserta warga masyarakatnya yang tetap solid dalam melaksanakan kegiatan ngarot.
” Semoga lembaga adat desa yang ada di Jatigede, khususnya Sumedang, pada umumnya bisa bersatu, membentuk satu wadah untuk melestarikan warisan budaya para leluhur kita,” ungkap Camat. *** Aris








