HARIAN SUMEDANG — Kementerian Pertanian bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan dukungan TNI-Polri menyalurkan bantuan Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Tersier di Kabupaten Sumedang.
Program yang disalurkan melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian serta BPLIP 1 Bandung ini bertujuan untuk memperkuat program swasembada pangan nasional.
Salah satu penerima manfaat program ini adalah Kelompok Tani Sumber Rejeki yang berlokasi di Desa Sukamulya, Kecamatan Ujungjaya. Salah satu lumbung padi utama di Kabupaten Sumedang.
Dari total luas hamparan lahan pertanian sebesar 62 hektar milik kelompok tersebut, saat ini tercatat sekitar 42 hektar lahan telah berhasil teraliri air.
Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, H. Andi Yanrana (H. Ali), menyambut antusias program tersebut. Ia apresiasi Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang atas kepercayaan yang diberikan.
Menurutnya, bantuan tahun anggaran 2026 ini memberikan dampak positif langsung bagi para petani. Selain memitigasi dampak El Nino, pengerjaan swakelola juga membantu meningkatkan pendapatan warga.
Seluruh pengerjaan perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi dipastikan berjalan sesuai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang ditetapkan pemerintah.
Saat ini, petani mengandalkan air Sungai Cipelang dengan sistem pompanisasi yang kapasitasnya belum mampu mencakup seluruh area persawahan.
H. Ali berharap pemerintah dapat memberikan solusi jangka panjang melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT). Fasilitas ini dinilai penting agar pasokan air tetap stabil tanpa bergantung pada musim.
Baca Juga:
Maulana Yusuf As-Shauqi Kreator Difabel yang Karyanya Menembus Ruang Publik Bergengsi
Rindu Para Guru dan Langkah Baru Dede Yasin Untuk Mengayomi Jayamekar
ITE Hong Kong 2027: Dua Pertiga “Trade Buyer” dan Wisatawan FIT Berasal dari GBA
Di luar program irigasi, kawasan pertanian Kelompok Tani Sumber Rejeki juga terpilih sebagai lokasi riset dan percontohan pertanian modern.
Area seluas 2.380 meter persegi digunakan sebagai lokasi penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selain itu, terdapat lahan demplot PM AAS seluas 1.750 meter persegi serta demplot metode Jepang.
Secara keseluruhan, terdapat sekitar 3 hektar lahan milik kelompok yang dimanfaatkan untuk kegiatan riset dan demplot guna meningkatkan produktivitas hasil tani nasional.
( Abdul Haris )







