GAYA HIDUP — Dari Sumedang, rombongan KOLBU—Komunitas Kolot-kolot Beuki Ulin—mulai bergerak. Di balik julukan “kolot”, duduk para kepala sekolah dan guru yang menolak berhenti belajar. Tujuan mereka hari itu : Dataran Tinggi Dieng.
Rombongan KOLBU melaju bukan sekadar membawa mesin, namun menjadi ruang langka bagi para pendidik untuk saling menguatkan, saling mengingat bahwa mereka tidak berjuang sendiri.
Beberapa jam menaklukkan jalan, rombongan akhirnya menepi di Pemalang. Helm dilepas dan cerita pun berjatuhan, terutama tentang kejadian selama di perjalanan
Sementara itu, mesin-mesin motor diperiksa diam-diam, seolah para “kolot” ini juga ingin memastikan bahwa kendaraan dalam kondisi prima untuk menempuh jalan yang lebih jauh.
Dari Pemalang, arah roda membelok menuju Batang, lalu menanjak perlahan ke Dieng. Jalan mulai berkelok, udara menipis, dan napas mesin terdengar lebih berat.
Namun tak ada keluhan yang terdengar. Justru di tanjakan dan tikungan itulah semangat mereka makin hidup—menjadikan setiap belokan dan tanjakan sebagai bukti adanya kesehatian.
“Setiap perjalanan KOLBU selalu kami niatkan sebagai ajang mempererat silaturahmi dan menjaga semangat sehat di kalangan guru,” ujar Jatnika Pria Utama, Kepala SMPN 9 Sumedang sekaligus penggagas komunitas.
Baginya, jalanan yang dilalui bukan sekadar rute wisata, melainkan ruang perjumpaan—tempat para pendidik saling menguatkan di luar hiruk pikuk kelas dan administrasi sekolah.
Jatnika menambahkan, kegiatan touring ini telah mengakar menjadi tradisi tahunan yang selalu dinanti anggota. “Guru juga perlu waktu untuk menyegarkan pikiran. Touring ini cara kami menjaga kebersamaan, agar semangat mengajar tetap terjaga,” katanya.
Baca Juga:
Media Vietnam Soroti Kelemahan Taktis Usai Ditumbangkan Timnas U-19 Indonesia
Tren Menunda Kehamilan dan Infertilitas di Dunia Dorong Layanan Klinik Fertilitas Lintas Negara
Menjelang malam, deru mesin rombongan KOLBU dijadwalkan mereda di kawasan Dieng. Di ketinggian yang dingin dan sunyi itu, mereka memilih berhenti sejenak—melepas lelah sambil membiarkan udara pegunungan menenangkan pikiran.
“Dieng selalu memberi suasana damai. Kami ingin perjalanan ini tidak hanya tentang jalan dan motor, tapi juga tentang kebersamaan,” ujar Jatnika Pria Utama, selalu mengulang kata makna kebersamaan.
Para kepala sekolah dan guru ini melanjutkan adventure ride menyusuri objek-objek wisata di sekitar Dieng sebelum mengarahkan laju menuju Purwokerto untuk bermalam. Rute pulang baru akan mereka tempuh Senin pagi, membawa kembali jejak perjalanan ke Sumedang.
Bagi KOLBU, touring bukan sekadar hobi bermotor yang mengejar jarak. Setiap perjalanan adalah ruang kecil untuk meneguhkan nilai-nilai sederhana yang sering luput di tengah rutinitas sekolah.
“Kami ingin tetap aktif, sehat, dan bermanfaat meski usia bertambah. Itu semangat KOLBU sejak awal,” tutup Jatnika dengan senyum. Di balik helm dan jaket kulit, semangat para “kolot” itu justru terasa paling muda.
Kini di tepi samudra selatan, gelar ALO, AYI, AMANG, hingga ABAH melebur dalam satu tawa. Gelar itu didapat dari rekam jarak : di atas 500 kilometer disebut AYI, di atas seribu menjelma AMANG, dan bila telah melampaui seribu lima ratus, disapa ABAH—sebutan penuh wibawa sekaligus kehangatan.
Di sanalah jam terbang bukan lagi sekadar angka, melainkan jejak usia, pengalaman, dan persahabatan yang semakin matang seiring jauhnya perjalanan. KOLBU membuktikan bahwa di usia senja, kaki boleh letih, tapi hati tak pernah berhenti mengembara. ( Tatang Tarmedi ) ****









