HARIANSUMEDANG.COM – Salah satu ciri dari orang – orang beragama adalah menghormati dan menghargai tamunya kecuali dalam kondisi sakit.
Bertamu dan menerima tamu, dalam Islam, merupakan bagian dari silaturahmi, amalan sunnah yang dianjurkan.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR Muslim)
Rasulullah SAW. pun bersabda, “Sesungguhnya orang yang berakhlak baik dalam memuliakan tamu akan mendapat derajat kemuliaan orang banyak berpuasa dan shalat sunah.”
Dalam ajaran Kristen pun, menerima tamu telah lama mencirikan para penyembah sejati dari Yehuwa. Misalnya, Abraham, Lot, dan Ribka melakukan hal itu.
Sewaktu menyatakan sikapnya terhadap orang tak dikenal, sang patriark Ayub menyatakan, ”Tidak ada penduduk asing yang bermalam di luar; pintu-pintuku terus kubuka menghadap ke jalan.”—Ayub 31.32.
Dalam agama Hindu, tamu diperlakukan dengan penuh hormat dan dianggap sebagai wujud Tuhan. Hal ini karena keramahtamahan merupakan inti dari budaya Hindu.
Prinsip keramahtamahan Hindu berakar pada pepatah Sansekerta kuno “Atithi Devo Bhava”, yang berarti “tamu adalah wujud Tuhan”.
Dalam ibadah ritual, Tuhan disambut sebagai tamu pribadi dengan persembahan simbolis dan mantra-mantra Sansekerta. ( Tatang Tarmedi ) ***
Baca Juga:
Pembangunan Joging Track 360 Meter di Lapang Cikeruh Dimulai, Didanai CSR Jatos
Kolot yang Tak Pernah Tua: Jejak Para Pendidik KOLBU Merajut Silaturahmi dari Sumedang ke Dieng
CGTN: Tiongkok dan AS Sepakati Visi Baru, Dorong “Hubungan Lebih Stabil dan Konstruktif”








