HARIAN SUMEDANG — SMPN 1 Wado menunjukkan komitmen nyata dalam mewujudkan lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan. Sekolah ini secara konsisten menggalakkan program edukasi keberlanjutan serta mengaplikasikan inovasi pengolahan sampah mandiri.
Langkah ini berfokus pada pembentukan kesadaran seluruh warga sekolah, mulai dari guru, staf tata usaha (TU), hingga para siswa, akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
Kepala SMPN 1 Wado, Yaya, S.Pd., menyampaikan bahwa upaya awal dimulai dari pembiasaan meminimalisir sampah anorganik, khususnya plastik sekali pakai. Seluruh siswa dan staf diimbau untuk selalu membawa wadah makanan dan tempat minum (tumbler) sendiri dari rumah.
Pembiasaan tersebut terbukti efektif menekan volume sampah harian di area sekolah. Selain itu, penerapan sistem pembelajaran berbasis digital (media berbasis gadget) turut mengubah pola jajan siswa di kantin, yang berdampak langsung pada berkurangnya timbulan sampah.
Penanaman budaya peduli lingkungan juga dilakukan melalui aksi pemilahan sampah secara spontan. Warga sekolah dibiasakan untuk aktif memungut sampah yang ditemui dan memilahnya ke dalam kategori organik serta anorganik sebelum dibuang ke tempat sampah.
Meski demikian, pengolahan sampah kerap menghadapi kendala ketika memasuki musim hujan. Sampah anorganik yang bercampur air dan sisa makanan menjadi basah sehingga sulit untuk dimusnahkan.
Guna mengatasi kendala tersebut, SMPN 1 Wado merancang dan menciptakan alat pemusnah sampah berbasis tabung uap air secara mandiri. Inovasi teknologi tepat guna ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan lokal sekolah.
Pengoperasian alat ini memanfaatkan oli bekas atau minyak limbah sebagai bahan bakar awal. Api dari bahan bakar tersebut mendidihkan air dalam tabung khusus hingga menghasilkan uap bertekanan tinggi. Uap air ini kemudian disemburkan melalui spuyer untuk memperkuat daya bakar api.
Semburan api bertenaga uap tinggi mampu melahap habis sampah anorganik yang basah maupun berminyak. Dari pemusnahan satu drum penuh sampah, residu yang tersisa hanya berupa abu sebanyak kurang lebih satu rantang kecil.
Baca Juga:
Xinhua Silk Road: Jurnalis Muda Afrika Jajaki Peluang Kerja Sama Baru Tiongkok-Afrika di Hunan
Strategi Kades Margajaya Pertahankan Pembangunan di Tengah Penurunan Dana Desa 2026
Penggunaan alat pembakar sampah berbasis uap ini diprioritaskan selama musim hujan. Sementara pada musim kemarau, pemusnahan sampah tetap dilakukan secara konvensional di bak penampungan setelah melewati proses pemilahan.
Melalui integrasi antara edukasi karakter, pengurangan limbah sejak dari sumbernya, dan penerapkan teknologi tepat guna, pihak sekolah optimistis nilai-nilai kepedulian lingkungan akan tertanam mendalam pada seluruh warga SMPN 1 Wado. ( Tatang Tarmedi ) ***







