IRI Indonesia Ajak Gereja di Papua Barat Daya Jadikan Mimbar sebagai Suara Perlindungan Hutan Papua

- Pewarta

Jumat, 4 September 2026 - 20:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana diskusi kelompok para pendeta dari 78 klasis di Papua Barat Daya dalam menyusun materi khotbah untuk mendorong penyelamatan hutan Papua. Kegiatan yang diselenggarakan IRI Indonesia ini berlangsung di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026).

Suasana diskusi kelompok para pendeta dari 78 klasis di Papua Barat Daya dalam menyusun materi khotbah untuk mendorong penyelamatan hutan Papua. Kegiatan yang diselenggarakan IRI Indonesia ini berlangsung di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026).

HARIAN SUMEDANG — Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia mendorong para pendeta dan pemimpin jemaat di Papua Barat Daya untuk memanfaatkan mimbar gereja sebagai sarana menyuarakan perlindungan hutan dan keadilan ekologis.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Workshop Penulisan Khotbah Gereja Protestan bertajuk “Mimbar Suci, Suara Hutan” yang digelar di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Kamis (3/9/2026).

Sebanyak 61 pendeta dan pemimpin jemaat dari jejaring gereja di Papua Barat Daya hadir untuk merumuskan cara menghubungkan pesan iman dengan persoalan nyata kerusakan alam.

Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Hening Parlan, menegaskan bahwa hutan bagi masyarakat Papua merupakan ruang hidup, sumber pangan, tata air, serta identitas yang harus dijaga secara turun-temurun.

Ia menilai ajaran agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tanggung jawab merawat bumi sebagai ruang kehidupan bersama.

“Papua Barat Daya tanpa hutan itu tidak ada suaranya lagi. Jadi, kita harus menyampaikan kepada publik dan seluruh umat bahwa mimbar gereja harus berbicara tentang hutan,” kata Hening di Sorong, Kamis.

Hening mengingatkan agar Papua tidak mengalami nasib seperti daerah lain yang kehilangan tutupan hutannya akibat alih fungsi lahan, industri ekstraktif, hingga pertambangan.

“Jangan sampai suara hutan Papua menjadi suara kematian hutan Papua,” ujarnya.

Ia meminta para rohaniwan mulai menyusun khotbah dengan mengaitkan ayat-ayat Alkitab pada fakta dan persoalan nyata yang dialami jemaat.

Langkah ini didukung oleh perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) sekaligus anggota Advisory Council IRI Indonesia, Pdt. Johan Kristiantara.

Johan menilai gereja harus melangkah lebih jauh dari sekadar wacana teologi menuju keberpihakan pada kehidupan nyata.

“Kita perlu bergerak dari sekadar berteologi menuju keberpihakan. Kita perlu bergerak dari sekadar berolah pikiran menjadi bersaksi tentang hutan,” tutur Johan.

Menurutnya, isu lingkungan hidup dan pengalaman hidup masyarakat sekitar harus menjadi bagian utama dari pemberitaan di mimbar.

Sementara itu, perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja Papua Barat Daya, Pendeta Renhard Ohoitimur, menekankan pentingnya mengubah pengaruh besar umat beragama menjadi aksi nyata.

“Umat beragama di Indonesia itu paling powerful. Tetapi apakah kekuatan ini telah menjadikan kita semua kekuatan luar biasa untuk melakukan tanggung jawab? Jawabannya belum,” ujar Renhard.

Ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan hutan akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama.

Dalam workshop tersebut, para peserta langsung dilatih menyusun naskah khotbah berbasis krisis lingkungan di sekitar mereka.

Para pendeta diajak merumuskan pesan iman yang bermula dari masalah jemaat, menghubungkannya dengan kitab suci, hingga menentukan aksi nyata setelah ibadah usai.

Melalui pendekatan ini, pesan perlindungan hutan diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi masuk ke dalam kehidupan keluarga dan komunitas gereja. ( Red )

Berita Terkait

Peringatan Maulid Nabi 1448 H: Momentum Penguatan Karakter dan Akhlak Mulia Peserta Didik
SMPN 1 Wado Terapkan Teknologi Pembakaran Sampah dengan Uap Air
Gegara 1,5 Ton Ikan dan Uang Terbang: Kolam Al Kamil Sumedang Mendadak Penuh Sesak ‘Manusia Air’
Menavigasi Masa Depan Jurnalisme: Antara Akselerasi Otomatisasi dan Reimajinasi Profesi
Eksistensi Dodol Ibu Kita khas Tanara: Menjaga Resep Warisan di Tengah Gempuran Jajanan Modern
Istana Bunga Plastik Sumedang Hadirkan Solusi Dekorasi Meja Kerja Elegan dan Terjangkau
Unik! Pohon Kelapa “Menjelajah” Tanah Sebelum Menjulang Tinggi di Tanjungsari Sumedang
Menerjang Hujan dan Ombak Demi Nyawa: Perjuangan Bidan Vera di Pesisir Langkat

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 20:40 WIB

IRI Indonesia Ajak Gereja di Papua Barat Daya Jadikan Mimbar sebagai Suara Perlindungan Hutan Papua

Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Peringatan Maulid Nabi 1448 H: Momentum Penguatan Karakter dan Akhlak Mulia Peserta Didik

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:58 WIB

SMPN 1 Wado Terapkan Teknologi Pembakaran Sampah dengan Uap Air

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Gegara 1,5 Ton Ikan dan Uang Terbang: Kolam Al Kamil Sumedang Mendadak Penuh Sesak ‘Manusia Air’

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:45 WIB

Menavigasi Masa Depan Jurnalisme: Antara Akselerasi Otomatisasi dan Reimajinasi Profesi

Berita Terbaru