HARIAN SUMEDANG — Di saat desa-desa lain sibuk geber mesin politik dan adu gengsi jelang Pilkades Serentak Oktober mendatang, Desa Margajaya di Kecamatan Tanjungsari justru adem ayem.
Kontestasi politik tingkat desa di kawasan ini berpotensi besar berujung pada skenario calon tunggal. berkas yang masuk ke meja panitia tetap konsisten: hanya milik sang kades petahana, Ayat Ruhiat.
Ketua Panitia Pilkades Margajaya, H. Wawan Hernawan, mengonfirmasi bahwa langkah perpanjangan pendaftaran ini terpaksa diambil demi menjalankan regulasi.
Pasalnya, sejak gelombang pertama dibuka, nama sang petahana memang melenggang sendirian tanpa pesaing.
Alih-alih merasa di atas angin, Ayat Ruhiat justru memendam harap agar ada warga lain yang memberanikan diri maju ke gelanggang.
Bagi sang petahana, munculnya rival bukan soal adu otot politik, melainkan cermin bahwa semangat warga untuk ikut memikul beban dan membangun desa masih menyala.
Apalagi, ia mengakui jujur bahwa menjadi nakhoda desa di era sekarang bukanlah perkara gampang. Kursi kades yang sering disangka empuk itu kini terasa makin dingin dan berat.
Biang kerok utamanya tak lain adalah pemangkasan drastis alokasi Bantuan Dana Desa dari pemerintah pusat. Keran anggaran makin mengetat membuat ruang gerak pemerintah desa kian terbatas.
Sadar akan kondisi dompet desa yang sedang ‘pacak pancaroba’, Ayat memilih realistis. Ia enggan menebar obral janji manis yang hanya akan menjadi pukat penjerat dirinya di kemudian hari.
Baca Juga:
Himel Raih Technology Excellence Award, Hadirkan Inovasi pada Produk Kelistrikan Sehari-hari
Meski begitu, dengan sisa-sisa anggaran yang amat bersahaja, Margajaya terbukti tidak malah jalan di tempat. Proyek perbaikan jalan desa hingga bedah rumah tidak layak huni (rutilahu) tetap berhasil digulirkan.
Tampaknya, racikan strategi hemat tapi berjalan inilah yang bikin warga kepikat, sampai-sampai belum ada yang tega—atau berani—menantang sang petahana di bilik suara. ( Tatang Tarmedi )







