HARIANSUMEDANG.COM – Dunia seni sedang diguncang perdebatan sengit mengenai penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam pembuatan karya seni.
Kontroversi ini memuncak setelah sebuah karya seni yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI berhasil memenangkan penghargaan bergengsi di pameran seni internasional.
Karya seni yang diberi judul “Evolusi Abstrak” ini mengalahkan ratusan karya lainnya, sebagian besar di antaranya dibuat oleh seniman manusia.
Keputusan ini memicu reaksi beragam dari komunitas seni global. Sebagian pihak memuji inovasi teknologi ini sebagai bentuk evolusi seni.
Sementara yang lain menganggapnya sebagai ancaman terhadap keberadaan seniman tradisional.
“Ini adalah masa depan seni,” ujar Dr. Arif Wibowo, seorang pakar teknologi dari Universitas Indonesia.
AI memungkinkan kita untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk ekspresi baru yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh manusia.
Ini adalah alat yang sangat kuat yang dapat memperkaya dunia seni, ” katanya
Namun, tidak semua setuju dengan pandangan tersebut. Maya Sari, seorang pelukis yang karyanya turut serta dalam pameran tersebut, menyuarakan kekecewaannya.
Baca Juga:
Peringati Hardiknas 2026, Bupati Majalengka: IPM Tertinggi di Ciayumajakuning,
Revitalisasi SLB Doa Bunda Tanjungsari Rp1,05 Miliar Dimulai, Pelaksana Jamin Sesuai Spek
Bupati Majalengka Tinjau SDN 3 Mirat yang Ambruk, Perbaikan Segera melalui Dana BTT.
“Mengapa kita harus bersaing dengan mesin? Seni adalah tentang emosi, pengalaman, dan sentuhan manusia. AI tidak bisa memahami itu,” katanya dengan nada kecewa.
Media sosial pun dibanjiri oleh debat panas mengenai isu ini. Tagar #SaveHumanArt dan #AIArtFuture menjadi trending topic di Twitter, masing-masing didukung oleh kubu yang berbeda.
Beberapa netizen berpendapat bahwa AI dapat menjadi alat kolaborasi yang menarik bagi seniman, sementara yang lain khawatir bahwa AI akan menggantikan peran seniman sepenuhnya.
Pemerintah dan berbagai lembaga seni kini sedang mempertimbangkan regulasi baru yang mengatur penggunaan AI dalam seni.
Beberapa usulan termasuk penandaan karya yang dihasilkan oleh AI dan pembatasan penghargaan bagi karya-karya tersebut.
Kontroversi ini menandai babak baru dalam hubungan antara seni dan teknologi. Bagaimana dampaknya terhadap masa depan industri seni masih harus dilihat,
Tetapi satu hal yang pasti, perdebatan ini akan terus berlanjut dan mungkin akan mengubah lanskap seni selamanya.
(Gilang) ***









