HARIANSUMEDANG.COM – Pengalaman pertama bagi saya bisa menginjakkan kaki ke pusat kota Sumedang. Berkat Program P5, saya bisa tahu Museum, Alun-Alun / Tugu Lingga dan Gunung Kunci.
Berangkat dari kampus SMP Negeri Tanjungsari menggunakan Angkutan Kota ( Angkot ). Mang Supir yang selalu setia mengantar kami tiap hari ke sekolah.
Sebelum sampai ke target kunjungan, kami melewati Jalan Cadas Pangeran, jalan bersejarah tempat perlawanan Pangeran Kornel terhadap Gubernur Jendral Daendels.
Sesampainya di Alun- Alun, saya begitu terkesima melihat keindahan Alun-Alun Sumedang dengan bangunan mungil ditengahnya yang bernama Lingga.
Masuk ke museum, ada beberapa bangunan tempo dulu yang dipertahankan keberadaannya. Bangunan tadi disebut Srimanganti.
Museum Sumedang berisi benda-benda kuno peninggalan Kerajaan Sumedang. Di sana ada beragam senjata berupa variasi keris dan pisau jamann dulu.
Selain itu, saya pun melihat Tombak yang dibawahnya bertuliskan Tutup Putih untuk Pengawalan Bupati Gelar Tumenggung.
Ada pula seperangkat gamelan, diantaranya diberi nama Gamelan Penglipur, dibawahnya bertuliskan kisah asal mula dibuat gamelan tersebut.
Pangeran Ranggagede memerintah dari tahun 1625-1633 kehilangan putranya yang sangat disayangi sehingga beliau berduka sekali dan dibuat gamelan sebagai pelipur lara.
Baca Juga:
Sekretaris DPRD Sumedang Ajak Warga Jaga Kebersihan Sambut Hari Tatar Sunda
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Saya pun melihat beberapa mahkota kerajaan, termasuk mahkota Binokasih Sanghiang Pake, yang menurut ayah saya, itu pemberian Kerajaan Pajajaran.
Raja Pajajaran sebelum ” runtag ” menyuruh empat kandaga lantenya untuk menyerahkan mahkota kerajaan kepada Ratu Sumedang Larang.
Peristiwa itu, kata ayah, sebagai simbol kepercayaan Kerajaan Pajajaran kepada Kerajaan Sumedang Larang untuk meneruskan kerajaan Sunda.
Setelah dari museum, kami melewati Alun-Alun Kota Sumedang. DI tengahnya berdiri bangunan kecil yang ikonik, bernama Lingga Medal.
Baca Juga:
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
For the Reasons that Matter: Kampanye Multi-Negara yang Menyoroti Kesehatan Pernapasan Dewasa
Kata ayah, monumen Lingga dibuat pada tahun 1922 oleh pemerintah Belanda untuk mengenang jasa-jasa Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmadja.
Dari Alun-Alun Sumedang, kami menuju Gunung Kunci, gunung kecil tidak jauh dari Alun-Alun. Di sana ada benteng yang dibangun pada era penjajahan Belanda.
Menurut ayah, benteng ini terdiri atas tiga lantai yang berfungsi sebagai ruang prajurit, perwira, dan tahanan. Struktur bangunan diperkuat dengan beton tebal yang kokoh hingga kini.
Demikian perjalan wisata budaya kami ke Sumedang, saya bangga memiliki daerah yang sarat sejarah dan saya bangga bersekolah di SMP Negeri Tanjungsari. (VISI SUCIATI / Siswa Kelas 7i SMP Negeri 1 Tanjungsari )









