Oleh YUKIE H. RUSHDIE
HARIANSUMEDANG.COM – Ada satu masa di mana Cepot, salah satu tokoh punakawan legendaris Tanah Sunda dalam episode wayang carangan di negeri ini, bermimpi menjadi Ratu.
Ia, dengan karakter keras kepalanya, menyatakan sanggup menjadi pemimpin berkelas hanya dalam sekerjapan mata.
“Hapuslah mimpimu, Pot. Bahkan Kanjeng Prabu Drestarata saja harus batal jadi raja hanya karena dia buta,” kata Astrajingga, rekanan Cepot dalam kepunakawanan.
“Itu lain, ini Cepot, Bro,” timpal Cepot.
“Sebijak apapun Kanjeng Prabu Drestarata, harus gagal jadi raja karena urusan fisik,” tekan Astrajingga lagi, mengingatkan, “Apalagi ente, Pot. Sudah lemah secara fisik, payah juga secara akal.”
“Halah Astrajingga, betapa kerdilnya caramu memandang alam semesta ini. Tidakkah kau melihat ada kelebihan yang tak dimiliki orang lain kecuali aku?” tanya Cepot.
“Muka merah? Hanya itu yang kulihat,” sahut Astrajingga lagi.
“Nah, itu dia. Fakta, kau hanya melihat alam semesta ini dengan mata lahir. Sementara, mata batinmu terus terpejam, dininabobokan oleh arus zaman yang membodohi.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Padahal, kalaulah saja… ya, kalau saja kau terus mengasah mata batinmu hingga lebih tajam dari mata lahirmu, dengan mudah kau bisa menemukan keistimewaanku itu,” kata Cepot.
Astrajingga, seperti biasa, tak pernah tertarik untuk mempertajam perdebatannya dengan Cepot.
Ia tahu, semakin tajam perdebatan itu berjalan, semakin lukalah hatinya, karena Cepot memang enggan untuk menunjukkan sikap mengalah.
“Okelah, Pot. Aku tahu, apapun yang kau bilang itu sudah pasti kau anggap benar. Dan, apapun yang aku bilang, pasti kau anggap salah. Sekarang, jadikanlah aku pendengar yang baik.
Baca Juga:
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
For the Reasons that Matter: Kampanye Multi-Negara yang Menyoroti Kesehatan Pernapasan Dewasa
Dorong Revolusi Pangan Global, Teknologi “Food Processing” Jepang Tampil di Panggung Dunia
Paparkanlah strategimu untuk menjadi pemimpin berkelas dalam sekerjapan mata itu,” kata Astrajingga, akhirnya.
Dengan senyum penuh rasa unggul, Cepot mendekapkan lengannya di dada.
“Begini, Saudaraku. Kita tahu, ada banyak pemimpin di dunia ini, tapi tak semuanya berkelas.
“Ada pemimpin yang hobinya nyaplok-nyaplokin negara tetangga, dengan alasan strategi pengamanan teritorial.
“Ada juga pemimpin yang hobinya koar-koar di media sosial, dengan dalih strategi pengamanan adsense.
“Yang parah, banyak pemimpin yang cuma manggut-manggut doang dalam menyikapi pidato teman-temannya sesama pemimpin.
“Mereka, katanya, bersikap seperti begitu supaya nanti, pada saat gilirannya berpidato tiba, bakal ditanggapi serupa, takkan disanggah, dan sejenisnya.
Baca Juga:
Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
“Nah, bagaimana dengan aku? Di sinilah bedanya.
“Aku tidak akan mencaplok negeri tetangga, tidak akan berkoar-koar di medsos, apalagi cuma manggut-manggut saat teman-temanku sesama pemimpin sedang berpidato.
“Aku akan memecah Negara Asthinapura ini menjadi enam bagian, menunjuk para pemimpin boneka, membentuk kaukus semacam persemakmuran, dan menciptakan dialog-dialog formal dengan mereka setiap hari.
“Membebaskan setiap makhluk untuk berkembang biak, sehingga populasinya mencapai tingkat wahid.
“Memfokuskan konsentrasi negara pada ketahanan pangan, ketahanan militer, dan ketahanan budaya.
“Dari situ, kita akan melahirkan sumberdaya-sumberdaya yang sehat, kuat, dan beradab. Berkelas, bukan?” papar Cepot, panjang lebar, hingga mulutnya nyaris berbuih.
“Oke berkelas, tapi tidak sekerjapan mata,” sahut Astrajingga.
“Wah, masa? Coba kau ulangi lagi ucapan-ucapanku tadi, butuh waktu berapa lama untuk mengucapkannya?” balas Cepot, berkelit.
Lamat-lamat, di kejauhan, terdengar puluhan rakyat jelata meregang nyawa di ujung senjata tentara, dan — akhirnya — mereka semua tewas secara “beradab”…
(Yukie H. Rushdie, kolumnis, wartawan senior)
















