Catatan : Tatang Tarmedi
H. Pepen Supendi menjadi Ketua PGRI Sumedang untuk keduakalinya, menarik untuk dikaji, beberapa jam sebelum pemilihan, Dede Yasin Jamahsari undur dari pencalonan, hingga menyisakan H.Pepen dan Gunawan di bursa pemilihan pada Rabu 25 Juni 2025.
Raihan akhir suara dari kedua calon, H.Pepen Supendi mendapat 527 suara, sementara Gunawan 113 suara. Jumlah total suara 640. TPS I H. Pepen 148. H. Gunawan 31, TPS II H.Pepen 115 H. Gunawan 27, TPS III H.pepen 140 H.Gunawan 128, TPS IV H.Pepen 124 H.Gunawan 27.
Dari pandangan penulis, H. Pepen Supendi masih berada di atas angin untuk memenangkan pemilihan, salahsatunya karena mantan Kepala SMK Pasundan ini begitu elastis dalam memimpin PGRI Sumedang dan relatif diterima di kalangan anggota.
Sementara, Gunawan, dia sebenarnya kurang banyak dikenal di kalangan guru SD dan SMA/ SMK, hanya di kalangan komunitas guru SMP di Sumedang, nama Gunawan tidak akan asing, apalagi beliau akan terkait dengan nama H. Dedi mantan Ketua PGRI Sumedang.
Namun, nama Dede Yasin Jamahsari, begitu dikenal di kalangan komunitas guru SD dan apalagi Kepala Sekolah SD, hal itu dikarenakan kepala SD Cidomas ini menduduki jabatan Ketua Forum Kepala Sekolah ( K3S ) Kabupaten Sumedang.
Ketika Dede Yasin Jamahsari masuk ke bursa pencalonan Ketua PGRI Sumedang, jelas ini akan menjadi ancaman bagi H.Pepen dan Gunawan, mengingat para calon pemilih berasal dari pengurus-pengurus PGRI Kecamatan yang rata- rata kepala sekolah SD.
Dede Yasin tampaknya ‘ tidak tergila-gila ‘ dengan kedudukan. Ia mungkin merasa kurang ngeh seandai dua kedudukan dipegang sekaligus, Ketua PGRI dan Ketua K3S. Akhirnya, ia putuskan mundur dari pencalonan Ketua PGRI Sumedang dan berfokus memegang K3S Kabupaten Sumedang saja.
Dari fenomena itu, bisa diambil ketauladanan, bahwa kedudukan bukanlah segalanya. Ungkapan ini menekankan bahwa nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh jabatan atau posisi sosial yang dimilikinya, tetapi juga oleh kualitas diri, kontribusi, dan hubungan dengan orang lain.
Meskipun kedudukan bisa memberikan keuntungan dan pengaruh, namun kebahagiaan, kepuasan hidup, dan kebermaknaan hidup seringkali bersumber dari hal-hal lain di luar kedudukan.
Dengan kata lain, meskipun kedudukan bisa menjadi bagian dari identitas seseorang, namun hal itu bukanlah satu-satunya penentu nilai dan kebahagiaan. Pengembangan diri, hubungan yang sehat, dan kontribusi positif kepada masyarakat adalah hal-hal yang juga penting dalam menjalani hidup yang bermakna. ***








