PENDIDIKAN – Pembelajaran mendalam menekankan pemahaman konsep agar siswa dapat menerapkan ilmunya, bukan sekadar menghafal materi untuk mengejar target kurikulum.
Demikian inti pembahasan Titin Suryati Sukmadewi, Kepala SMA Negeri 2 Cimalaka terkait Deep Learning
melalui audio visualnya
Menurutnya, pendekatan ini menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran yang aktif, reflektif, mandiri, dan adaptif. Tujuannya adalah meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Banyak guru masih terpaku pada penyelesaian target kurikulum, sehingga fokusnya adalah menghabiskan materi, bukan pada pemahaman mendalam siswa.
Tantangan lainnya, kata Titin, termasuk mindset guru yang belum siap dengan istilah baru, kurangnya rasa percaya diri, motivasi belajar siswa yang rendah, kurangnya digitalisasi, serta minimnya kolaborasi dan dukungan dari kepala sekolah.
Kepala sekolah telah melakukan berbagai upaya seperti pelatihan, workshop, supervisi, dan dukungan sarana prasarana. Namun, kegiatan ini seringkali tidak memiliki tindak lanjut yang jelas.
Kondisi di SMAN 2 Cimalaka: Meskipun rapor pendidikan sekolah menunjukkan hasil yang baik (berwarna hijau) di semua dimensi (literasi, numerasi, karakter, dll.), ada rekomendasi untuk meningkatkan dukungan refleksi guru.
Sebagai solusi, diperkenalkan pendekatan reflektif berbasis tim yang disebut “IKRAR” (Implementasi, Kinerja, Refleksi, Analisis, dan Revisi). Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran mendalam secara berkelanjutan.
Dampak Positif pada Siswa: Penerapan pembelajaran mendalam terbukti memberikan dampak positif. Siswa merasa lebih diajak untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan memahami makna dari setiap pembelajaran.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Titin menekankan pentingnya refleksi dan perbaikan berkelanjutan melalui pendekatan “IKRAR” untuk memastikan keberhasilan implementasi pembelajaran mendalam dan meningkatkan kualitas pendidikan secara nyata.*** Tang








