EDITORIAL – Laga Jepang lawan Indonesia pada pertandingan terakhir Grup C yang akan digelar di Suita City Football Stadium, Osaka, Selasa (10/6/2025). menjadi laga berat bagi Tim Indonesia.
Bagi Jepang, laga itu tidak akan mempengaruhi hasil akhir, karena sebagai pemuncak klasemen Grup C, menang atau kalah tetap lolos ke AS, Kanada dan Meksiko.
Begitu pula bagi Indonesia, kalah atau menang, tetap hanya mendapatkan tiket masuk ke ronde 4 kemungkinan bersama UEA, Saudi Arabia, Oman, Qatar Pakestina dan Irak.
Bagi Indonesia, jelas laga itu sebagai laga terberat, mengingat Jepang bukan lagi sebagai tim yang layak masuk putaran final Piala Dunia, namun mereka pun telah layak juara Piala Dunia.
Tim samurai telah tujuh kali masuk Piala Dunia FIFA, tahun 1998 di Perancis, 2002 di Jepang-Korsel, 2006 di Jerman, 2010 di Afrika Selatan, 2014 di Brasil, 2018 di Rusia, dan 2022 di Qatar.
Bahkan, Jepang beberapa kali tembus hingga 16 besar pada Piala Dunia 2002, 2010, 2018, dan 2022.
Sementara Indonesia, selama ini masih berjuang untuk menjadi tim yang layak masuk putaran final Piala Dunia. Secara hitung-hitungan kasarnya begitu, meskipun di lapangan bisa terjadi lain.
Beratnya lagi bagi Indonesia, Jepang akan menunjukan level yang sesungguhnya lawan Indonesia, mengingat kekalahan tipisnya lawan Australia di Perth Stadium, Kamis (5/6/2025),
Wataru Endo, Zion Suzuki, dan Takefusa Kubo mungkin akan diturunkan lawan Indonesia, karena mereka tak ingin mengulang kekalahannya lagi, apalagi di kandang sendiri, apalagi lawan Indonesia yang dalam klasemen di Grup C berada di urutan 4.
Baca Juga:
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
Namun, dibalik itu semua, lawan Jepang harus jadi ukuran bagi Indonesia, ketika bisa lolos di Ronde 4 nanti, Indonesia bakal berhadapan dengan tim-tim super tangguh seperti Jepang.
Pelatih Hajime Moriyasu, arsitek utama kesuksesan Jepang. Ia mengandalkan filosofi permainan modern yang menekankan pressing tinggi dan transisi cepat.
Sebuah prestasi besar bagi kepelatihan. Patrick Kluivert bila saja Indonesia bisa menang lawan Jepang yang sedang berada dalam motivasi tinggi untuk menang.
Menurut Football Ranking, bila Indonesia menang lawan Jepang akan menambah poin menjadi +21.58. hingga Indonesia memiliki total 1179.3 poin. Serta akan bertengger di posisi 110 ranking FIFA.
Baca Juga:
For the Reasons that Matter: Kampanye Multi-Negara yang Menyoroti Kesehatan Pernapasan Dewasa
Dorong Revolusi Pangan Global, Teknologi “Food Processing” Jepang Tampil di Panggung Dunia
Namun, sebuah prestasi meyakinkan pula, bila Indonesia bisa menahan imbang. Dan sebuah prestasi bagus bila bisa menahan untuk tidak kalah besar.
Jepang menjadi tim tangguh di level asia karena dihuni individu-individu pemainnya yang tangguh. Ketangguhan individu adalah ketangguhan tim.
Ada enam pemain yang tampil di Liga Champions Eropa diantaranya adalah Wataru Endo (Liverpool), Hidemasa Morita (Sporting Lisbon), Reo Hatate (Celtic), Kyogo Furuhashi dan Daizen Maeda (Celtic), serta Takumi Minamino (AS Monaco).
Ketangguhan pemain adalah kebersatuan antara ketangguhan skil dan ketangguhan dalam kecerdasan berpikir dan menentukan sikap secara cepat.
Maka itu semua tugas pelatih, untuk bisa menakar pemain-pemain mana yang memiliki kriteria tadi. Lawan Jepang menjadi modal evaluasi untuk berlaga di Ronde 4 nanti.
Satu catatan penulis, ketika lawan China beberapa hari lalu, di babak pertama Indonesia main cantik dengan dari kaki ke kaki, mengingatkan kita ke permainan Barcelona.
Baca Juga:
Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital
Namun, di babak 2, permainan dari kaki ke kaki yang mencerminkan kerja kolektif seperti di babak pertama seperti sirna, bahkan lebih terkesan individual.
Barangkali ini hanya sebagai sorotan penulis saja yang bisa saja sebagai setitik debu evaluasi yang bisa mengundang evaluasi yang lebih besar demi kemajuan sepak bola Indonesia.
( Tatang Tarmedi ) ***













