EDITORIAL — Dunia olahraga, termasuk sepak bola, idealnya selalu riuh dengan sorak sorai dari pendukung tuan rumah dan pendukung tim tamu.
Namun, regulasi yang terus-menerus melarang kehadiran suporter tim tamu sejatinya sedang mengikis roh kompetisi itu sendiri.
Kebijakan ini bak jalan pintas yang membungkus ketakutan dengan dalih keamanan, alih-alih menyelesaikan akar persoalan.
Kedewasaan suporter tidak akan pernah lahir di ruang isolasi. Karakter dan kultur sepak bola yang sehat hanya bisa ditempa ketika semua pihak terbiasa mengelola rivalitas secara terbuka.
Sampai kapan penikmat sepak bola harus terus dikungkung oleh rasa trauma?
Jika suporter tamu selalu dilarang hadir, maka iklim kedewasaan yang dicita-citakan hanyalah ilusi—sebab ruang untuk belajar saling menghormati justru ditutup rapat.
Langkah ini juga menjadi cermin bagi kesiapan aparat keamanan dan pengambil kebijakan.
Keamanan sejati bukan tercipta dengan meniadakan potensi gesekan melalui larangan total, melainkan dari kemampuan mengelola risiko dan menciptakan iklim pertandingan yang aman bagi siapa saja.
Menjaga ketertiban di tengah hadirnya dua kubu pendukung adalah ujian nyata atas kapasitas pengamanan yang profesional dan modern.
Baca Juga:
Disambut Hangat Ratusan Warga, Incumbent Cucun Alfian Siap Tuntaskan Pembangunan Desa Ujungjaya
Kampanye Hari Pertama Kades Nanjungwangi: Dadi Supriyadi Usung Visi “RAMAH”
WEPACK 2027 Kembali Digelar di Shanghai, Satukan Seluruh Rantai Industri Kemasan
Sepak bola adalah panggung persatuan dan ruang tumbuh bersama. Sudah saatnya semua pemangku kepentingan berani melangkah keluar dari zona nyaman.
Mengembalikan hak suporter tamu untuk mengawal tim kesayangannya bukan sekadar mengembalikan tradisi tribune, melainkan sebuah pertaruhan penting untuk mematangkan kultur olahraga yang aman, bermartabat, dan dewasa. (Tang/







