HARIANSUMEDANG.COM – Milangkala Desa Citaleus Kecamatan Buahdua ke 42 berlangsung sederhana tapi cukup meriah, Kamis 05 Desember 2024.
Milangkala bertema Pengembangan Seni dan Budaya tersebut dihadiri Forkopimcam, Ketua Apdesi, beberapa Kepala Desa dan Forum BPD di Kecamatan Buahdua.
Selaku tuan rumah hadir Kepala Desa dan Perangkat Desa, BPD, LPM, Kader, Karangtaruna, mantan Kepala Desa, Linmas dan tokoh masyarakat Citaleus.
Milangkala berpusat di halaman Desa Citaleus, dimeriahkan pula dengan hiburan organ tunggal.
Rangkaian acara Milangkala di buka doa bersama dilanjutkan potong tumpeng yang dilakukan oleh kepala Desa Citaleus.
Kades Citaleus, Arli dalam sambutannya menuturkan sekilas tentang sejarah Desa Citaleus yang merupakan desa tertua di Kecamatan Buahdua.
Kades Arli pun menuturkan sejarah Desa Citaleus yang terbentuk pada tahun 1832, sesuai dengan akta pendirian Desa Citaleus nomor 79 tanggal 3 Desember 1832, yang pada waktu itu masuk ke Kecamatan Tanjungkerta.
Kata Arli, Desa Citaleus cukup dikenal di kalangan desa – desa di Kecamatan Tanjungkerta dengan sumber pendapatan, potensi, sosial serta budaya, yang merupakan keunggulan Desa Ciraleus waktu itu.
Pada tahun 1833 Desa Citaleus pindah ruang lingkup pengadministrasianya ke Kecamatan Buahdua. Karena wilayahnya terlalu luas, pelayanan kepada masyarakat menjadi kurang baik, hingga muncul suara pemekaran desa.
Baca Juga:
Bupati Dony Tegaskan Sumedang Siap Uji Coba Pilkades Digital Serentak di 92 Desa
Pilkades Digital Serentak di Sumedang: 92 Desa Siap Cetak Sejarah Baru
Dua Mantan Pejabat Desa Resmi Bertarung di Pilkades Nanjungwangi Surian
Ditunjang jumlah penduduk yang cukup banyak, akhirnya Desa Citaleus memenuhi syarat untuk dimekarkan. Tahun 1970 terjadi pemekaran desa, dan terbentuklah Desa Karangbungur.
Satu periode kepemimpinan Kepala Desa D. Kusmayadi (1970 – 1979 ) pasca pemekaran, Desa Citaleus dimekarkan kembali, dan berdiri Desa Mekarmukti.
Tahun 1981 Desa Citaleus dipimpin oleh T. Sutomo yang pada waktu itu berdomisili di Dusun Salam Desa Citaleus.
Kades Arli menceritakan, setelah dua kali pemekaran, Desa Citaleus menjadi Desa yang miskin akan sumber daya manusia ( SDM ), sumber pendapatan ( PAD ), sosial dan budayanya.
Baca Juga:
Nantikan 20 Tahun, Kober Indah Jaya Sabandar Akhirnya Raih Bantuan Revitalisasi dari Kemendikdasmen
Hisense Hadirkan AI Companion Suite, Wujudkan Konsep “Social Kitchen”
” Bahkan, pada Tahun 1984, Desa Citaleus dipredikatkan menjadi desa tertinggal ( IDT ) yang pada waktu itu dipimpin oleh T. Sutomo, ” tutur Kades Arli.
Camat Buahdua, Herman Suwandi dalam sambutannya mengucapkan selamat Milangkala ke 42. Semoga Desa Citaleus kedepan semakin maju dan warga masyarakat sejahtera.
Dalam kesempatan itu pula, pihak Kecamatan Buahdua memberikan sembako kepada warga masyarakat yang kurang mampu dan jompo.
” Mudah-mudahan bantuan sembako ini bisa mengurangi beban hidup mereka, ” ungkap Camat. (Priadi) ***








