Narasi Cepot Jadi Pemimpin, ‘ Hapuslah mimpimu, Pot. Prabu Drestarata saja batal jadi raja hanya karena dia buta’

- Pewarta

Jumat, 9 Mei 2025 - 20:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh YUKIE H. RUSHDIE

HARIANSUMEDANG.COM – Ada satu masa di mana Cepot, salah satu tokoh punakawan legendaris Tanah Sunda dalam episode wayang carangan di negeri ini, bermimpi menjadi Ratu.

Ia, dengan karakter keras kepalanya, menyatakan sanggup menjadi pemimpin berkelas hanya dalam sekerjapan mata.

“Hapuslah mimpimu, Pot. Bahkan Kanjeng Prabu Drestarata saja harus batal jadi raja hanya karena dia buta,” kata Astrajingga, rekanan Cepot dalam kepunakawanan.

“Itu lain, ini Cepot, Bro,” timpal Cepot.

“Sebijak apapun Kanjeng Prabu Drestarata, harus gagal jadi raja karena urusan fisik,” tekan Astrajingga lagi, mengingatkan, “Apalagi ente, Pot. Sudah lemah secara fisik, payah juga secara akal.”

“Halah Astrajingga, betapa kerdilnya caramu memandang alam semesta ini. Tidakkah kau melihat ada kelebihan yang tak dimiliki orang lain kecuali aku?” tanya Cepot.

“Muka merah? Hanya itu yang kulihat,” sahut Astrajingga lagi.

“Nah, itu dia. Fakta, kau hanya melihat alam semesta ini dengan mata lahir. Sementara, mata batinmu terus terpejam, dininabobokan oleh arus zaman yang membodohi.

Padahal, kalaulah saja… ya, kalau saja kau terus mengasah mata batinmu hingga lebih tajam dari mata lahirmu, dengan mudah kau bisa menemukan keistimewaanku itu,” kata Cepot.

Astrajingga, seperti biasa, tak pernah tertarik untuk mempertajam perdebatannya dengan Cepot.

Ia tahu, semakin tajam perdebatan itu berjalan, semakin lukalah hatinya, karena Cepot memang enggan untuk menunjukkan sikap mengalah.

“Okelah, Pot. Aku tahu, apapun yang kau bilang itu sudah pasti kau anggap benar. Dan, apapun yang aku bilang, pasti kau anggap salah. Sekarang, jadikanlah aku pendengar yang baik.

Paparkanlah strategimu untuk menjadi pemimpin berkelas dalam sekerjapan mata itu,” kata Astrajingga, akhirnya.

Dengan senyum penuh rasa unggul, Cepot mendekapkan lengannya di dada.
“Begini, Saudaraku. Kita tahu, ada banyak pemimpin di dunia ini, tapi tak semuanya berkelas.

“Ada pemimpin yang hobinya nyaplok-nyaplokin negara tetangga, dengan alasan strategi pengamanan teritorial.

“Ada juga pemimpin yang hobinya koar-koar di media sosial, dengan dalih strategi pengamanan adsense.

“Yang parah, banyak pemimpin yang cuma manggut-manggut doang dalam menyikapi pidato teman-temannya sesama pemimpin.

“Mereka, katanya, bersikap seperti begitu supaya nanti, pada saat gilirannya berpidato tiba, bakal ditanggapi serupa, takkan disanggah, dan sejenisnya.

“Nah, bagaimana dengan aku? Di sinilah bedanya.

“Aku tidak akan mencaplok negeri tetangga, tidak akan berkoar-koar di medsos, apalagi cuma manggut-manggut saat teman-temanku sesama pemimpin sedang berpidato.

“Aku akan memecah Negara Asthinapura ini menjadi enam bagian, menunjuk para pemimpin boneka, membentuk kaukus semacam persemakmuran, dan menciptakan dialog-dialog formal dengan mereka setiap hari.

“Membebaskan setiap makhluk untuk berkembang biak, sehingga populasinya mencapai tingkat wahid.

“Memfokuskan konsentrasi negara pada ketahanan pangan, ketahanan militer, dan ketahanan budaya.

“Dari situ, kita akan melahirkan sumberdaya-sumberdaya yang sehat, kuat, dan beradab. Berkelas, bukan?” papar Cepot, panjang lebar, hingga mulutnya nyaris berbuih.

“Oke berkelas, tapi tidak sekerjapan mata,” sahut Astrajingga.

“Wah, masa? Coba kau ulangi lagi ucapan-ucapanku tadi, butuh waktu berapa lama untuk mengucapkannya?” balas Cepot, berkelit.

Lamat-lamat, di kejauhan, terdengar puluhan rakyat jelata meregang nyawa di ujung senjata tentara, dan — akhirnya — mereka semua tewas secara “beradab”…

(Yukie H. Rushdie, kolumnis, wartawan senior)

Berita Terkait

IRI Indonesia Ajak Gereja di Papua Barat Daya Jadikan Mimbar sebagai Suara Perlindungan Hutan Papua
Peringatan Maulid Nabi 1448 H: Momentum Penguatan Karakter dan Akhlak Mulia Peserta Didik
SMPN 1 Wado Terapkan Teknologi Pembakaran Sampah dengan Uap Air
Gegara 1,5 Ton Ikan dan Uang Terbang: Kolam Al Kamil Sumedang Mendadak Penuh Sesak ‘Manusia Air’
Menavigasi Masa Depan Jurnalisme: Antara Akselerasi Otomatisasi dan Reimajinasi Profesi
Eksistensi Dodol Ibu Kita khas Tanara: Menjaga Resep Warisan di Tengah Gempuran Jajanan Modern
Istana Bunga Plastik Sumedang Hadirkan Solusi Dekorasi Meja Kerja Elegan dan Terjangkau
Unik! Pohon Kelapa “Menjelajah” Tanah Sebelum Menjulang Tinggi di Tanjungsari Sumedang

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 20:40 WIB

IRI Indonesia Ajak Gereja di Papua Barat Daya Jadikan Mimbar sebagai Suara Perlindungan Hutan Papua

Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:12 WIB

Peringatan Maulid Nabi 1448 H: Momentum Penguatan Karakter dan Akhlak Mulia Peserta Didik

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:58 WIB

SMPN 1 Wado Terapkan Teknologi Pembakaran Sampah dengan Uap Air

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Gegara 1,5 Ton Ikan dan Uang Terbang: Kolam Al Kamil Sumedang Mendadak Penuh Sesak ‘Manusia Air’

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:45 WIB

Menavigasi Masa Depan Jurnalisme: Antara Akselerasi Otomatisasi dan Reimajinasi Profesi

Berita Terbaru

Info Sumedang

Sensasi Jafro Megawanto dan Dominasi Zhenjun Zhao di WJPC 2026

Senin, 21 Sep 2026 - 11:43 WIB

Info Sumedang

Sumedang Siap Menuju Destinasi Sport Tourism Dunia lewat WJPC 2026

Senin, 21 Sep 2026 - 11:28 WIB