Sepertinya aku salah seorang yang kedagingan dari politik. Hartaku melimpah ruah hasil dari jadi pejabat politik.
Terus terang, jadi pejabat politik, bagiku sebuah pekerjaan. Rasanya aku sulit mencari pekerjaan lain, bila tak jadi pejabat politik.
Modal besar untuk jadi pejabat politik, menurutku hanyalah berkata manis. Memberikan janji- janji yang meskipun akhirnya sedikit bukti.
Contohnya saat aku menjadi Bupati di Negeri Antah Berantah, Enam tahun aku duduk di kursi Bupati, harta kekayaanku meruah beberapa puluh kali lipat.
Padahal, modal dasarku, hanyalah rakyat yang bodoh. Aku pelihara ribuan rakyat bodoh. Mereka bisa hanya cukup diberi sekali dengan nilai kecil saja.
Mereka cukup diberi sarung dan kerudung atau uang dua puluh ringgit. Mereka orang-orang kecil yang kehidupannya selalu terancam dengan lapar.
Naluri politikku selalu bisa memilah mana rakyat bodoh, rakyat bunglon dan rakyat pintar. Ciri rakyat bodoh, diberi sekali tapi mereka jadi pemilih yang setia.
Beda dengan rakyat bunglon, mereka hanya memilih kepada yang pemberiannya terbanyak. Semua pemberian mereka terima, namun pilihannya tetap kepada calon dengan pemberian terbanyak.
Berbeda dengan rakyat pintar, mereka tahu rekam jejak Sang Calon, sehingga mereka bisa memprediksi akan seperti apa kepemimpinan Si Calon nanti. Makanya jumlah rakyat begini, sangat sedikit jumlahnya.
Baca Juga:
Dorong Revolusi Pangan Global, Teknologi “Food Processing” Jepang Tampil di Panggung Dunia
Aku hanya memelihara rakyat bodoh saja, jelang pencalonan pintu rumahku hanya terbuka untuk rakyat bodoh saja. Percuma aku lirik rakyat bunglon dan rakyat pintar.
Rakyat Bunglon jelas hanya menguras modalku saja, mubazir. Rakyat Pintar yakin tidak akan memilihku, karena aku bukan type pemimpin pulihan mereka.
Karena Rakyat Bodoh di Negeri Antah Berantah jumlahnya lebih banyak, akhirnya aku terpilih jadi Bupati. Setelah dilantik aku nyaris lupa dengan rakyat bodoh yang menjadi pendukungku.
Ketika di media sosial aku membaca ada seseorang yang terkena musibah, aku tahu korban itu rakyat bodoh pendukungku. Tapi, tidak pernah aku meluangkan waktu untuk menengoknya.
Baca Juga:
Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital
Pernah ada kabar dari ajudanku, keluarga korban mendatangi ke kantor kebupatian, mungkin untuk mencari bantuan, oleh ajudanku pihak korban itu disarankan untuk mengajukan ke baznas.
Begitulah, selama enam tahun aku menjabat Bupati di Negeri Antah Berantah, aku lupakan rakyat bodoh yang jadi pendukungku. Ketika jabatanku tersisa enam bulan lagi, pintu rumahku terbuka lagi bagi mereka.
Cara-cara pada periode pertama aku jalankan lagi, aku kumpulkan rakyat-rakyat bodoh yang pernah mendukungku pada periode pertama. Kuberi lagi mereka kerudung atau sarung atau duit duapuluh ringgit.
Malah, aku melihat korban yang viral di media sosial beberapa tahun lalu itu. Aku pura-pura tidak tahu, ia yang kondisinya telah cacat kuberi dia sarung dan kerudung serta uang duapuluh ringgit.
Aku kembali terpilih jadi Bupati di Negeri Antah Beranrah untuk kedua kalinya. Kekayaanku kian meruah. Tapi, tidak terpikirkan untuk menyapa mereka rakyat bodoh yang mendukungku.
Empat tahun kemudian, disaat usia jabatan keduaku tinggal dua tahun lagi, disaat aku duduk santai di ruang kerja bupati, ajudanku datang menghampiriku.
Baca Juga:
CGTN: Awal yang Solid dalam Repelita Ke-15 Tiongkok, Apa Maknanya?
Halal Bihalal PGRI Sumedang, Wabup Fajar Dorong Penguatan Profesionalisme dan Sinergi Guru
RUPS Tahunan Bank BJB Tahun Buku 2025, Kinerja Didorong Lebih Profesional dan Sehat
” Pak, di depan gerbang kantor kebupatian, ribuan orang berunjukrasa ingin bertemu bapak, ” katanya. Segera aku beranjak ke lantai dua ruangan kerjaku, disana jelas pandangan ke arah gerbang kantor kebupatian.
Terlihat jelas ribuan orang berdesakan dengan membawa spanduk dan berorasi di depan ratusan polisi yang berjejer menghalangi mereka masuk ke kantor kebupatian.
Aku kenal wajah-wajah mereka, ternyata rakyat-rakyat bodoh yang mendukungku selama ini. Mereka membawa puluhan spanduk, Diantaranya bertuliskan, ” Kami Telah Tertipu Dengan Akan Bulusmu,” tulisnya.
Spanduk lainnya bertuliskan, ” Ternyata, pimpinan yang kami dukung selama ini, seorang koruptor, ” Aku turun ke ruangan kerjaku lagi. Hatiku berkata, ternyata rakyat bodoh di Negeri Antah Berantah itu, telah berubah menjadi pintar.
( Tamat )















