HARIANSUMEDANG.COM — اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ (Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk. La syarika laka).
Talbiyah tadi tampaknya memanggil ketauhidan seorang Kartaman mengumpulkan bekal dengan cara menabung agar bisa menunaikan ibadah haji ke baitullah.
Bekerja sebagai perangkat desa dengan penghasilan tetap (siltap) per bulan tidak lebih dari Rp.3 juta tidak menjadi pembatas baginya untuk tidak berupaya bisa melengkapi keislamannya.
Sekdes Kartaman mengaku dari tahun 2011 ia menyisihkan siltapnya, ” Misal tiap bulan dapat siltap, saya sisihkan sebagian ditabung bekal ke sana, terus begitu, hingga akhirnya tahun ini bisa berangkat, ” tuturnya.
Ternyata, kenang Sekdes, ketika berada di tanah suci, rutinitas keseharian kerjanya selaku sekdes, terlupakan sama sekali. Setiap saat mulut dan hatinya terus bertasbih menyebut nama Alloh.
Sekdes Kartaman mulai terjun menjadi perangkat desa sekitar tahun 2008 sebagai P3N / Kaur Kesra. Berjalan hingga enam tahun, hingga tahun 2015 diangkat jadi Sekretaris Desa.
Satu hal menjadi kebahagiaan selaku perangkat desa, kata Ulis Kartaman, ketika dirinya bisa membantu masyarakat yang membutuhkan sesuatu dari desa.
Warkat ini mudah-mudahan bisa memacu Sekdes lainnya untuk berbuat serupa, karena berdasar pengamatan media ini, untuk di Kabupaten Sumedang Kartaman satu-satunya Sekdes yang bertitel haji.
(Tatang Tarmedi) ***
Baca Juga:
Shanghai Electric Tampilkan Integrasi Energi dan Industri Berbasiskan AI di Hannover Messe 2026







