HARIAN SUMEDANG — Di balik harum gurih adonan makanan ringan yang tengah digorengnya, tersimpan sebuah tekad kuat dari seorang wanita berusia 47 tahun.
Deti Kurnia, warga Desa Cibeureum Kulon, Kecamatan Cimalaka, Sumedang, bukanlah sosok yang mau pasrah pada keadaan.
Hari ini, ia membuktikan bahwa garis kemiskinan bukanlah titik akhir, melainkan garis start untuk melompat lebih tinggi.
Dahulu, nama Deti tercatat rapat dalam daftar penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH).
Bantuan tunai berkala dari pemerintah itu diakuinya sangat membantu menopang dapur keluarga di masa-masa sulit.
Namun, Deti tak ingin selamanya bergantung pada uluran tangan negara. Perlahan tapi pasti, ia merintis usaha olahan makanan ringan kecil-kecilan.
Dari keuntungan yang diputar kembali, roda ekonominya mulai melaju stabil.
Hingga sebuah keputusan berani diambilnya: mengajukan graduasi mandiri—menyatakan keluar dari kepesertaan PKH secara sukarela.
“Saya merasa masih produktif dan mampu mencari penghasilan sendiri. Orang lain juga mau merasakan bagaimana mendapatkan bansos.
Baca Juga:
Berdiri Sejak 1989, SLB Bina Karya Buktikan Dedikasi Cetak Ratusan Alumni Mandiri
Trinasolar Dukung Proyek PLTS dan Penyimpanan Energi 10 MWh di Phu Quoc, Vietnam
Sensasi Nobar ‘Mewah’ Berudara Segar: Garasi Persib Baginda Sumedang Siap Sambut Wa Haji Umuh
Sekarang kebutuhan saya cuma PBI (Penerima Bantuan Iuran) untuk jaminan kesehatan saja,” tutur Deti tersenyum saat berhadapan langsung dengan Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir.
Bagi Deti, melepaskan hak bansos bukan berati kehilangan, melainkan memberi ruang bagi tetangganya yang jauh lebih membutuhkan.
Atas kegigihannya mengembangkan usaha hingga berdiri di atas kaki sendiri, Deti dianugerahi bantuan modal Kelompok Usaha Bersama (KUBE) PKH Gemilang Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp 20 juta.
Suntikan dana segar tersebut bak angin segar yang siap menerbangkan usahanya ke level yang lebih tinggi.
Deti berencana menggunakan modal itu untuk memodernisasi peralatan produksi dan memperluas jangkauan pasar produk makanan ringannya.
Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, tak segan melempar pujian atas kesadaran sosial yang ditunjukkan Deti.
Langkah tersebut dinilai sebagai bukti nyata bahwa program bansos tidak menciptakan ketergantungan, melainkan menjadi batu loncatan menuju pemberdayaan.
“Ini contoh bagus. Bu Deti ini dulunya masuk bansos PKH. Usaha kecilnya berkembang dan sekarang graduasi, naik kelas. PKH-nya bisa dialihkan kepada yang lebih membutuhkan,” ujar Dony.
Kisah Deti Kurnia kini menjadi angin segar dalam potret pengentasan kemiskinan di Kabupaten Sumedang.
Dari sekadar penerima manfaat, ia bertransformasi menjadi pahlawan ekonomi bagi dirinya sendiri, membawa harapan bahwa setiap keluarga memiliki peluang yang sama untuk mandiri dan sejahtera. ( Siti Kowati )








