HARIANSUMEDANG.COM – Upacara adat Ngalaksa 2025 sedang digelar di Bale Adat Desa Rancakalong mulai Selasa hingga Minggu (18/5/2025).
Acara diiisi pula dengan gelaran kesenian Tarawangsa yang menggambarkan kekayaan nilai spiritual dan budaya masyarakat Rancakalong.
Ngalaksa sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil panen padi persembahan kepada simbol Nyi Pohaci Sanghyang Sri.
Upacara tersebut juga menggambarkan tahapan-tahapan kehidupan manusia yang dimulai dari dalam kandungan, lahir, menikah, dan mati.
Bagi masyarakat Rancakalong upacara tersebut merupakan perpaduan antara pengalaman religius dan estetika yang diwujudkan dalam bentuk simbol.
Sajarah Ngalaksa diawali dari satu bentangan sejarah dari abad ka 17
ketika Sumedang Larang di bawah nalendra Eyang Suradiwangsa.
Waktu itu Kerajaan Mataram sedang menguasai tatar Jawa, bermaksud menyerang VOC di Batavia. Para prajurit Mataram menghimpun bekal di Sumedang.
Konon semua hasil panen padi dan palawija yang ada di Rancakalong dibawa untuk bekal penyerangan, hingga tidak menyisakan untuk benih sekalipun.
Balukarna dirancakalong bener-bener euweuh nu bisa dipelak pikeun minuhan kabutuh hirup, iwal hanjeli nu bisa tumuwuh subur tur jadi bahan pangan gaganti pare.
Ada satu tokoh bernama Eyang Jatikusumah, ia ingin memutus penderitaan rakyat karena tidak memiliki benih padi untuk ketahanan pangan waktu itu.
Beliau berjalan kaki ke Cirebon untuk mencari benih padi, namun perjalanannya banyak dijegal tentara Mataram.
Tidsk kehabisan akal, Eyang Jatikusumah mengirim utusan untuk ngadatangkeun dua orang seniman tarawangsa, Wiraguna dan Wiguna.
Rrombongan Wiraguna dan wiguna sepanjang jalan menggelar tarawangsa , hingga Prajurit Mataram juga turut menari, terbawa wirahma tarawangsa.
Kasempetan itu dimangfaatkan rombongan untuk menyusupkan. benih padi, disembunyikan di dalam tarawangsa.
Rombongan Wiraguna jdan Wiguna. sepanjang jalan bersuka ria setelah bisa membawa benih padi dari Cirebon. Rasa kegembiraan itu terus lahir hingga sekarang dengan upacara Ngalaksa.
( Tatang Tarmedi ) ***









