HARIAN SUMEDANG — Upaya penanganan lahan kritis dan pemulihan ekosistem hutan di Jawa Barat memasuki babak baru. Terobosan ini ditandai dengan peluncuran program “Jaga Leuweung” dan “Bambunisasi” yang diinisiasi Gubernur Dedi Mulyadi.
Program ini hadir sebagai solusi ganda. Selain memulihkan kawasan hutan kritis dan lahan bekas galian C, program ini juga memberdayakan masyarakat petani lokal melalui skema padat karya produktif untuk menekan angka pengangguran.
Table of Contents
ToggleFokus Persemaian di Gunung Geulis
Ketua Forum Peduli Gunung Geulis, Saepudin, menjelaskan bahwa Program Jaga Leuweung difokuskan pada pembuatan dan pengelolaan persemaian bibit skala besar.
Di kawasan Gunung Geulis, program ini direalisasikan dalam dua paket kegiatan. Setiap paket ditargetkan memproduksi 15.000 bibit, sehingga total terdapat 30.000 bibit tanaman yang kini tengah dikembangkan.
Skema Pekerja & Fasilitas
Tenaga Kerja: Dikelola oleh 6 tenaga kerja lokal (3 orang per paket).
Fasilitas: Menerima jaring paranet, plastik persemaian, serta pasokan pupuk pendukung.
Dampak: Upah kerja langsung diberikan untuk membantu meningkatkan ekonomi keluarga petani.
Kombinasi Tanaman Ekologi dan Ekonomi
Untuk menjaga keseimbangan antara fungsi ekologis (penyerapan air dan penahanan erosi) serta nilai ekonomi, jenis tanaman yang dikembangkan meliputi:
-
Kopi Robusta (MPTS): Sebanyak 3.000 pohon per pekerja (total 6.000 pohon per paket). Berfungsi sebagai tanaman konservasi resapan air sekaligus penunjang ekonomi.
-
Pamelina / Gamelina: Sebanyak 1.000 pohon per pekerja (total 3.000 pohon per paket) untuk penguatan struktur tanah.
-
Surian / Sikian: Tanaman kayu keras lokal sebanyak 750 pohon per pekerja (total 2.250 pohon per paket).
-
Kakao / Cokelat: Dikembangkan khusus karena sangat cocok dengan tanah Gunung Geulis. Memiliki nilai jual baik dan tajuk daun rimbun yang efektif menahan erosi.
Rekultivasi Lahan Bekas Galian C
Selain Jaga Leuweung, program Bambunisasi difokuskan untuk menangani area kritis bekas galian C.
Sekitar 3.000 pohon bambu telah ditanam di kawasan tersebut. Langkah ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi resapan air sekaligus mengikat tanah yang rusak akibat aktivitas penambangan.
Tantangan dan Harapan Ke Depan
Dalam pelaksanaannya, program ini sempat menghadapi kendala cuaca berupa kemarau panjang (halodo) yang memicu insiden kebakaran lahan. Namun, pengelola bersama kelompok tani telah menyiapkan langkah antisipasi berupa penyulaman dan perawatan intensif pascamusim kering.
Baca Juga:
DPRD Sumedang Janjikan Pengawalan Usulan Perbaikan Irigasi Nagrog ke Tingkat Provinsi dan Pusat
Pembekalan Calon Paskibraka Sumedang: Wabup Tekankan Literasi Digital dan Karakter Generasi Emas
Melalui integrasi pemulihan ekosistem dan insentif ekonomi, Saepudin berharap program Jaga Leuweung dan Bambunisasi tidak hanya menjadi jawaban atas ancaman bencana ekologis di kawasan hulu.
Lebih dari itu, program ini diharapkan dapat menjadi percontohan (benchmark) bagi pemberdayaan masyarakat berbasis konservasi di seluruh wilayah Jawa Barat. ( Laporan Tatang Tarmedi dan Dadang Sudarmana )







