HARIAN SUMEDANG — Kemeriahan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kabupaten Sumedang kembali disemarakkan oleh tradisi tahunan Pawai Lampion pada malam 17 Agustus.
Diiringi partisipasi luas dari tingkat SD hingga SMA/SMK, deretan peserta tampil memukau. Namun, rombongan SMP Negeri 9 Sumedang berhasil mencuri perhatian lewat sajian atraksi kearifan lokal yang t kaya muatan edukasi.
Mengusung tema “Urang Sunda Kudu Nyunda tur Micinta Kasundaan” (Orang Sunda Harus Berkarakter Sunda dan Mencintai Budaya Sunda), SMPN 9 Sumedang menyuguhkan barisan bernuansa budaya Sunda yang otentik.
Seluruh peserta tampil memikat dalam balutan pakaian adat—setelan pangsi dan salontreng untuk laki-laki serta kebaya untuk perempuan—disertai alunan musik calung dan tari Ketuk Tilu di sepanjang rute pawai.
Kehadiran ragam permainan tradisional seperti sapintrong (lompat tali) serta parade 25 pasang egrang menjadi daya tarik tersendiri.
Tak hanya permainan masa lampau, rombongan turut membawa beragam perkakas kabuhunan (tradisional), mulai dari lodong (wadah bambu), posong/bubu (perangkap ikan), hingga lisung (alat penumbuk padi tua).
Kepala SMPN 9 Sumedang, Jatnika Pria Utama, mengungkapkan bahwa konsep ini dihadirkan untuk menyampaikan pesan moral penting bagi generasi muda.
“Pesan moral dari pertunjukan ini sangat jelas: mengajak anak-anak untuk kembali bergerak dan mengenal permainan tradisional nusantara, sebagai alternatif sehat untuk mengurangi kecanduan terhadap gawai (gadget),” tegas Jatnika.
Pengorbanan di Balik Properti Otentik
Dibalik suksesnya penampilan ini, terdapat dedikasi luar biasa dari sang kepala sekolah. Jatnika secara pribadi merogoh kocek sendiri dan berburu perkakas langka hingga ke pelosok kampung demi menyajikan properti yang benar-benar asli.
Baca Juga:
Menjawab Pertumbuhan Pariwisata, Archipelago Hotels Terus Berkembang Menjangkau Beragam Pasar
Coway Raih Penghargaan IDEA Design Awards 2026, Lengkapi “Grand Slam” Desain Internasional
“Untuk mendapatkan Lisung yang asli, saya mencarinya hingga ke Tanjungsari. Di sana saya menemukan satu lisung kayu asli buatan masa lalu yang sudah menunjukkan titik-titik keropos dimakan usia,” tambah Jatnika.
Penampilan sarat edukasi dan pelestarian nilai lokal ini memanen apresiasi tinggi dari para pembawa acara serta masyarakat yang memadati rute pawai.
Partisipasi SMPN 9 Sumedang menjadi bukti nyata bahwa perayaan kemerdekaan merupakan ruang efektif untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap warisan budaya nusantara. ( Catatan Tatang Tarmedi )







