Utang Menumpuk, Ekonomi Terancam: Apakah Indonesia Terjebak dalam Perangkap Utang Abadi?”

- Pewarta

Sabtu, 14 Februari 2026 - 03:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Keputusan pemerintah untuk memperlebar pembiayaan utang dalam APBN 2026 hingga mencapai Rp832,2 triliun dinilai sebagai langkah darurat yang masuk akal namun sarat risiko.

Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menyebut kebijakan fiskal ekspansif ini memang krusial untuk menahan perlambatan ekonomi di tengah tekanan global dan dinamika domestik yang menantang.

Namun, ia memberikan catatan kritis terhadap rasio utang pemerintah yang telah menyentuh angka 40,3% terhadap PDB pada akhir 2025, dengan proyeksi tetap tinggi di kisaran 39,9% hingga 40,3% pada tahun 2026.

“Rasio utang di level 40,3% ini seharusnya sudah menjadi sinyal kewaspadaan tinggi, meskipun secara hukum masih di bawah batas aman 60%

Tren yang bertahan di angka 39,9% hingga 40,3% pada 2026 tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah dan strategi yang jelas,” tegas Noviardi dalam analisisnya.

Ia menekankan bahwa efektivitas pinjaman tersebut sepenuhnya bergantung pada keberanian pemerintah untuk mengalokasikan belanja pada sektor yang benar-benar produktif.

Noviardi secara tajam mengkritik pola pembiayaan yang hanya digunakan untuk belanja rutin atau subsidi yang tidak tepat sasaran. Menurutnya, utang harus berfungsi sebagai instrumen pengungkit ekonomi.

“Namun, jika utang hanya digunakan untuk tambal sulam defisit atau konsumsi jangka pendek, kita sebenarnya sedang mewariskan beban finansial yang berat bagi generasi mendatang,” cetusnya.

Selain persoalan alokasi, ia juga mendesak pemerintah untuk memperkuat transparansi data guna menjaga kredibilitas di mata pasar global. Di tahun 2026, kepercayaan investor menjadi aset yang sangat mahal.

“Minimnya transparansi dalam pengelolaan utang hanya akan mengerosi kepercayaan pasar dan masyarakat.

Pemerintah harus membuktikan bahwa setiap rupiah dari utang tersebut dikelola secara akuntabel,” tambahnya, Jumat, 13 Februari 2026.

Sebagai penutup, Noviardi mendorong adanya reformasi struktural yang nyata pasca-2026 agar ketergantungan pada utang tidak menjadi permanen.

“Utang boleh saja dijadikan jembatan untuk menyelamatkan ekonomi di masa sulit, tetapi harus segera diikuti dengan konsolidasi fiskal yang kuat.

Kita harus fokus pada pertumbuhan ekonomi riil berbasis produktivitas, bukan justru terjebak dalam siklus utang abadi,” pungkasnya. ( Tang ) ***

Berita Terkait

RUPS Tahunan Bank BJB Tahun Buku 2025, Kinerja Didorong Lebih Profesional dan Sehat
Pembangunan Infrastruktur Jalan Lingkungan Penunjang Kawasan Pacuan Kuda di Desa Raharja, Tanjungsari
Petik Anggur di Tomo, KWT Jatiputri Karyamukti Hadirkan Wisata Edukasi Sekaligus Dukung Program MBG
Peringati Hari Jadi Sumedang ke-448, Ketua BAZNAS Sumedang Ayi Subhan Hafiz Ajak Perkuat Sinergi dan Tebarkan Manfaat
Jembatan Apung Palabuan-Babakan Anyar: Inovasi Desa untuk Meringankan Beban Masyarakat
JNGR Hadirkan Keindahan Seni Tradisional Sunda: Kecapi Suling Menghipnotis Tamu Hotel
Damar Sewu” Tradisi Menjelang Lebaran yang Hilang di Sumedang
Kapolri Diperintah Langsung Presiden Prabowo Usut Tuntas Penyerangan Andrie Yunus

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 11:34 WIB

RUPS Tahunan Bank BJB Tahun Buku 2025, Kinerja Didorong Lebih Profesional dan Sehat

Senin, 27 April 2026 - 14:46 WIB

Pembangunan Infrastruktur Jalan Lingkungan Penunjang Kawasan Pacuan Kuda di Desa Raharja, Tanjungsari

Rabu, 22 April 2026 - 18:11 WIB

Petik Anggur di Tomo, KWT Jatiputri Karyamukti Hadirkan Wisata Edukasi Sekaligus Dukung Program MBG

Senin, 20 April 2026 - 14:57 WIB

Peringati Hari Jadi Sumedang ke-448, Ketua BAZNAS Sumedang Ayi Subhan Hafiz Ajak Perkuat Sinergi dan Tebarkan Manfaat

Minggu, 12 April 2026 - 21:06 WIB

Jembatan Apung Palabuan-Babakan Anyar: Inovasi Desa untuk Meringankan Beban Masyarakat

Berita Terbaru