Mengajar dengan Hati, Memimpin dengan Seni: Kiprah Transformatif Dr. Cucu Suhartini di SMPN 4 Jatinangor

- Pewarta

Selasa, 2 Juni 2026 - 03:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala SMPN 4 Jatinangor Dr  Hj Cucu Suhartini, SH, M.Hum ( paling kaman ) bersama guru-gurunya

Kepala SMPN 4 Jatinangor Dr Hj Cucu Suhartini, SH, M.Hum ( paling kaman ) bersama guru-gurunya

Sebuah Berita Biografi

 

HARIANSUMEDANG COM  – Dunia pendidikan modern hari ini menuntut sosok pemimpin yang tidak hanya cakap secara administratif, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Potret kepemimpinan transformatif dan humanis ini tercermin nyata dalam perjalanan pengabdian Dr. Cucu Suhartini, SH, M.Hum., Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Melalui perpaduan latar belakang disiplin ilmu hukum, humaniora, dan kecintaan pada dunia seni, Dr. Cucu berhasil menghadirkan solusi inovatif di tengah kompleksitas tantangan pendidikan di kawasan industri.

Menjawab Tantangan Sosial di Kawasan Industri

Saat pertama kali mengemban amanah memimpin SMPN 4 Jatinangor, Dr. Cucu dihadapkan pada realitas karakteristik ekosistem siswa yang unik. Terletak di kawasan yang berkembang secara industri, mayoritas orang tua siswa di sekolah tersebut berprofesi sebagai pegawai dan buruh pabrik dengan jam kerja yang padat.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada dinamika psikologis dan sosial para siswa, di antaranya:

  • Minimnya Waktu Pendampingan: Kesibukan orang tua di ranah domestik dan manufaktur memicu keterbatasan komunikasi antara orang tua dan anak.

  • Kerentanan Emosional: Kurangnya figur pendamping di rumah selepas jam sekolah berpotensi memicu kerentanan emosional yang dapat mengganggu fokus serta prestasi belajar siswa.

Menyadari bahwa pendekatan birokratis konvensional tidak akan menyentuh akar masalah, Dr. Cucu mengambil langkah visioner. Ia memilih memimpin dengan pendekatan berbasis empati, mentransformasikan institusi sekolah menjadi sebuah safe space (ruang aman) yang inklusif bagi seluruh siswa.

Inisiasi Program Psikologi dan Pendampingan Mental

Untuk mengisi kekosongan pendampingan emosional yang dialami siswa di rumah, Dr. Cucu menginisiasi program strategis dengan melibatkan para ahli psikolog profesional. Langkah ini dirancang secara sistematis untuk:

  1. Edukasi Perkembangan Mental: Memberikan pemahaman mendalam kepada tenaga pendidik mengenai kejiwaan dan fase perkembangan mental remaja.

  2. Dekodifikasi Bahasa Tubuh: Membantu guru dan orang tua dalam memahami bahasa tubuh serta kebutuhan emosional anak yang sering kali tidak tersampaikan secara verbal.

  3. Konseling Humanis: Menyediakan ruang konseling yang berbasis ilmiah namun tetap mengedepankan pendekatan humanis, sehingga siswa memiliki wadah yang aman untuk berekspresi dan bercerita.

Sekolah bukan sekadar lembaga formal transfer ilmu, melainkan sebuah rumah kedua di mana kesehatan mental anak dijaga, bakatnya dihargai, dan suaranya didengar dengan hati,” ujar Dr. Cucu dalam sebuah kesempatan.

Sentuhan Sastra Sunda dalam Pembentukan Karakter

Keunggulan kepemimpinan Dr. Cucu juga tidak lepas dari kepribadiannya sebagai seorang seniman sejati. Penulis yang telah melahirkan karya buku sastra Sunda ini membawa kepekaan rasa seorang sastrawan ke dalam ranah manajemen sekolah.

Integrasi nilai-nilai tersebut diimplementasikan melalui:

  • Kebijakan yang Fleksibel namun Disiplin: Menggabungkan ketegasan prinsip hukum dengan keluwesan pendekatan budaya.

  • Penguatan Kearifan Lokal (Local Wisdom): Menggunakan media sastra dan budaya Sunda untuk menanamkan tata krama, sopan santun, dan pembentukan karakter (character building) yang kokoh pada diri siswa sejak dini.

Representasi Pemimpin Pendidikan Modern

Melalui integrasi lintas disiplin—hukum, humaniora, psikologi, dan seni—Dr. Cucu Suhartini berhasil mengubah tantangan lingkungan industri menjadi peluang emas untuk memanusiakan hubungan antara sekolah, siswa, dan orang tua.

Di bawah kepemimpinannya, SMP Negeri 4 Jatinangor kini tumbuh menjadi role model sekolah yang seimbang antara capaian akademik dan kematangan emosional. Dr. Cucu adalah representasi nyata dari pemimpin pendidikan modern: tegas secara hukum, matang secara humaniora, dan lembut dalam sentuhan rasa.

(Kontak Media/Informasi Lebih Lanjut: Humas SMPN 4 Jatinangor)

Berita Terkait

Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu
Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa
H. Edeng Sutarya:  Figur ‘Orang Tua’ Pendidikan Sumedang di Akhir Pengabdian
Dari Asongan ke Kursi Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif H. Apit Mengubah Garis Takdir di Jatinunggal
Konsumsi Kopi dan Risiko Diabetes: Manfaat, Mitos, dan Aturan Amannya
Waspada Predator Siber Intai Anak-Anak Lewat Game Online
Menembus Batas Ritual: Menggali Makna Konotatif Kurban yang Terlupakan
Chatbot AI Tunjukkan Respons Mirip “Kesadaran Kelas Pekerja” dalam Eksperimen Stanford

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:29 WIB

Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:56 WIB

Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:46 WIB

H. Edeng Sutarya:  Figur ‘Orang Tua’ Pendidikan Sumedang di Akhir Pengabdian

Rabu, 3 Juni 2026 - 03:48 WIB

Dari Asongan ke Kursi Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif H. Apit Mengubah Garis Takdir di Jatinunggal

Selasa, 2 Juni 2026 - 03:34 WIB

Mengajar dengan Hati, Memimpin dengan Seni: Kiprah Transformatif Dr. Cucu Suhartini di SMPN 4 Jatinangor

Berita Terbaru