JATINANGOR – Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung program prioritas pemerintah (quick win), Puskesmas Jatinangor kini tengah menggencarkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Program ini dirancang sejalan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang berfokus pada upaya preventif atau pencegahan.
Kepala Puskesmas Jatinangor Dudung S menjelaskan bahwa layanan screening ini ditujukan bagi seluruh lapisan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Jatinangor.
Untuk memaksimalkan jangkauan, pihak puskesmas menurunkan tim aktif yang bergerak langsung ke lapangan setiap hari.
“Tujuannya adalah mendekatkan keterjangkauan pelayanan. Bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan untuk berkunjung langsung ke gedung puskesmas, mereka tetap bisa memanfaatkan layanan CKG ini dari tim lapangan di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Strategi Hadapi Tantangan Karakteristik Perkotaan
Mengingat Jatinangor berada di kawasan perkotaan yang padat dengan mobilitas penduduk tinggi serta banyaknya warga pendatang (seperti mahasiswa), puskesmas menerapkan strategi kemitraan lintas sektor.
Selain menyasar desa-desa, Puskesmas Jatinangor juga telah menjalin kerja sama dengan institusi pendidikan seperti Universitas Padjadjaran (Unpad).
Tidak hanya itu, program kemitraan ini direncanakan akan diperluas ke jajaran kepolisian, termasuk rencana pemeriksaan CKG bagi anggota Brimob, serta berkolaborasi dengan lembaga swadaya masyarakat dalam kegiatan komunitas seperti senam bersama warga yang diadakan pada hari Minggu.
Baca Juga:
Chatbot AI Tunjukkan Respons Mirip “Kesadaran Kelas Pekerja” dalam Eksperimen Stanford
SDN Cibeusi Jatinangor Bertransformasi Menuju Sekolah Ramah Lingkungan dan Unggulan Mutu
Kesadaran Screening Masih Rendah
Meski berada di kawasan pendidikan dan perkotaan, pihak puskesmas menyayangkan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara dini.
“Banyak masyarakat yang merasa dirinya sehat sehingga menganggap tidak perlu melakukan cek kesehatan. Padahal, screening ini penting untuk mengetahui kondisi tubuh sejak awal.
Jika suatu penyakit ditemukan lebih dini, peluang keberhasilan pengobatan jauh lebih besar dan biaya yang dikeluarkan pun akan lebih minim,” tambah Kepala Puskesmas.
Baca Juga:
SDN Ciletik Desa Raharja Tanjungsari Rusak Parah, Belum Ada Tanggapan dari Pemerintah
Lianlian DigiTech Perkuat Strategi di Timur Tengah, Hadirkan Layanan Pembayaran Resmi dari DIFC
Kendala Keterbatasan SDM Laboratorium
Terkait fasilitas penunjang, Jatinangor saat ini memiliki dua unit ambulans yang memadai untuk kebutuhan rujukan maupun operasional puskesmas keliling.
Namun, tantangan utama yang dihadapi saat ini beralih pada keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) atau petugas laboratorium.
Saat ini, Puskesmas Jatinangor hanya memiliki dua orang tenaga ATLM (satu orang berstatus P3K dan satu orang kontrak BLUD).
Jumlah ini dinilai kurang ideal mengingat Puskesmas Jatinangor juga menjadi puskesmas rujukan bagi puskesmas-puskesmas di sekitarnya, sehingga volume pemeriksaan laboratorium di dalam gedung sangat padat.
Pihak manajemen puskesmas berharap setidaknya ada penambahan satu orang tenaga ATLM lagi. Dengan demikian, dua orang petugas dapat fokus melayani pemeriksaan di dalam gedung, sementara satu orang lainnya bisa diberdayakan untuk mendukung tim screening CKG di lapangan.
Meski dihadapkan pada kendala pemenuhan kebutuhan SDM tersebut, Puskesmas Jatinangor menegaskan akan tetap mengoptimalkan seluruh daya dan staf yang ada demi memberikan pelayanan preventif yang maksimal bagi masyarakat Jatinangor. ( Tatang Tarmedi ) ****












