HARIANSUMEDANG.COM – Bekas istana mantan pemimpin Bangladesh , Sheikh Hasina, akan dijadikan museum setelah revolusi demokrasi yang menyebabkan penggulingan sang otokrat.
“Museum ini seharusnya menyimpan kenangan atas pemerintahannya yang buruk dan kemarahan rakyat,” kata pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Muhammad Yunus.
Yunus, seorang visioner keuangan mikro berusia 84 tahun, diangkat menjadi “penasihat utama” Bangladesh setelah pemberontakan yang dipimpin mahasiswa.
Mahasiswa menggulingkan rezim Hasina yang telah berkuasa selama 15 tahun hingga memaksanya melarikan diri menggunakan helikopter ke India pada tanggal 5 Agustus.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengadilan Bangladesh telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Hasina yang berusia 77 tahun.
Hasina banyak melakukan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk penahanan dan eksekusi di luar hukum terhadap lawan-lawan politiknya.
Puluhan ribu pengunjuk rasa antipemerintah menyerbu istana Ganabhaban—yang disebut oleh media lokal sebagai “simbol penindasan”—menjarah dan merusak interiornya yang mewah
Sebuah museum yang terletak di rumah ayah Hasina, presiden pertama Bangladesh Sheikh Mujibur Rahman, juga dijarah dalam demonstrasi yang berlangsung selama dua hari itu.
Pada tanggal 5 September, pemerintahan sementara Yunus mengumumkan bahwa lembaga yang direncanakan itu akan disebut Museum Peringatan Pemberontakan Juli.
Baca Juga:
Tekan Angka Tuberkulosis, Puskesmas Jatinangor Intensifkan Program Pengawas Menelan Obat (PMO)
Akselerasi Program Strategis Nasional, Pemkab Majalengka Pacu Swasembada Pangan.
Museum itu akan berisi replika “Rumah Cermin”, sebuah pusat penahanan terkenal tempat para tahanan dikurung dalam sel isolasi.
“Aynaghar seharusnya mengingatkan pengunjung tentang penyiksaan yang dialami oleh tahanan rahasia,” kata Yunus.
Apurba Jahangir, juru bicara kantor Yunus, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pembangunan museum akan dimulai pada bulan Desember.
( Tatang Tarmedi ) ***







