HARIAN SUMEDANG — Bagi masyarakat yang telah dalam mengenalnya, pergerakan pria ini ibarat sebuah Swiss Army Knife—alias pisau lipat serbaguna.
Siapa lagi bila bukan H. Ecek Karyana, warga Kampung Panundaan Desa Rancakalong. Kabupaten Sumedang.
Hampir tiga dekade lamanya, “Pergerakan sosial” pria ini telah mewarnai sejarah kota beludru.
Kini, ketika usianya tak lagi muda, banyak orang mulai bertanya-tanya: Siapa yang sanggup menggantikan langkah kakinya yang selebar itu?
Table of Contents
ToggleDari Jarum Suntik ke “Paraji Sunat” Legendaris
Gerakan meledak Dr. Ecek Karyana justru dimulai saat ia melepaskan seragam dinasnya sebagai tenaga kesehatan.
Alih-alih menikmati masa tua dengan menyiram tanaman di teras rumah, ia malah “tancap gas” ke arah timdakan sirkumsisinya ( sunat ).
Dr. Ecek membangun reputasinya sebagai juru sunat humanis. sebuah prosedur medis yang mematahkan kesan seram sunatan kuno.
Jika ada penghargaan Customer Service terbaik untuk dunia per-sunat-an di Sumedang, niscaya Dr. Ecek jelas kandidat tunggalnya.
Dari Ruang Kelas hingga Panti Gangguan Jiwa
Puas mengurus “masa depan” anak-anak lewat jalur khitan, pandangan Dr. Ecek melebar ke dunia pendidikan.
Khawatir melihat bibit-bibit generasi emas dari Rancakalong yang kerap gigit jari karena tidak tertampung di SMA Negeri, ia mendirikan Sekolah SMK sendiri.
Tidak berhenti di sana, Dr. Ecek tampaknya punya radar khusus untuk melihat apa yang sengaja dilewatkan oleh mata orang lain.
Baca Juga:
Casio Luncurkan Jam Tangan Mekanis Berbobot Ringan dengan Tampilan Waktu yang Mudah Dibaca
Sumedang Gelar Pilkades Digital 2026, Kecamatan dari Majalengka Gelar Studi Banding
Penerjemah dan Insan Media dari Tiongkok dan Berbagai Negara Bahas Penggerak Baru Pembangunan Yantai
Ia melirik sudut-sudut terpinggirkan, yang kerap terlupakan. Tanpa banyak retorika politik, ia membangun Panti Disabilitas dengan koceknya sendiri.
Saat pemerintah pusat sedang gencar-gencarnya merancang program Makan Bergizi gratis di sekolah, Dr. Ecek terjun pula ke dalamnya.
Nyaris Menjadi Bupati yang “Bekerja Gratis”
Puncak dari kegelisahan sosialnya sempat membawa Dr. Ecek mengintip ke panggung politik Pemilihan Bupati Sumedang.
Niatnya sederhana, atau mungkin terlalu jujur untuk standar politik modern: ia ingin punya kekuasaan lebih besar demi membantu masyarakat kecil.
Ia bahkan sempat bernazar, jika terpilih menjadi Bupati, seluruh gajinya sebagai kepala daerah akan dikembalikan 100% kepada masyarakat.
Sayangnya, garis takdir berkata lain. Langkahnya menuju kursi nomor satu di Sumedang tidak kesampaian.
Bagi para pencari takhta, kegagalan ini mungkin sebuah akhir cerita. Namun bagi seorang Ecek Karyana, ada atau tanpa kursi bupati, gerakan sosialnya tidak pernah melambat satu inci pun.
Baca Juga:
Jiahui Buka Pusat Terapi Sel Internasional, Perluas Akses Pengobatan CAR-T secara Global
Envision Energy Hadirkan Sistem Energi Baru Berbasis AI untuk Industri Tambang dan Pengolahan Logam
Politik mungkin kehilangan seorang calon kepala daerah yang unik, namun masyarakat kecil Sumedang beruntung karena “Paraji Legendaris” mereka tidak perlu disibukkan oleh rapat paripurna.
Kini, Sumedang menghadapi teka-teki besar. Meniru sosok yang ikhlas menyunat, mendirikan sekolah, merawat ODGJ, hingga rela bekerja tanpa gaji sebagai bupati bukanlah perkara mudah.
Dr. Ecek Karyana tampaknya telah memasang standar yang terlalu tinggi untuk bisa disebut sebagai seorang relawan.
Standar yang akan membuat siapa pun penggantinya harus lebih menguras otak untuk menyamai langkah kakinya yang sangat lebar. ( Tang )











