HARIANSUMEDANG.COM – Tidak ada yang lebih indah, kecuali membongkar kembali kenangan-kenangan masa silam.
Kenangan ketika wajah kota kembang Bandung seperempat abad sebelum merajalelanya inovasi penataan.
Sebelah timur Alun-Alun berdiri Gedung Miramar, gedung empat lantai bekas supermarket yang kosong dan tidak terurus.
Bekas-bekas kios tertutup, kotor dan berdebu, bau tengik bercampur bau kencing menyengat di lantai lorong-lorong yang gelap.
Untuk naik ke lantai atas, bisa gunakan tangga-tangga eskalator yang telah rusak.
Tapi, ditengah kios-kios berantakan itu, di lantai tiga, pernah berkantor penggiat media cetak di awal-awal kebebasan pers.
Hermawano, dengan fasilitas seadanya, berhasil mengeksiskan Tabloid Mingguan Otentik dan tabloid lainnya lagi.
Di samping Gedung Miramar, dekat jembatan penyebrangan, tempat berkumpulnya pria-pria perkasa.yang bikin banyak orang terpana.
Siapa sangka bila pria-pria bertubuh kekar dan berwajah sangar yang sering mangkal di sana adalah penoreh Rekor Muri dan guiness book.
Baca Juga:
PWI Yogyakarta Usulkan Almarhum Udin Wartawan Bernas Sebagai Pahlawan Nasional
Peringatan Maulid Nabi 1448 H: Momentum Penguatan Karakter dan Akhlak Mulia Peserta Didik
Cecep Rahman, muallaf mantan pemain band gereja, pernah tercarat di Muri sebagai manusia pertama yang mampu hiduo sekamar dengan ribuan ekor kalajengking.
Rudi, asal Cimahi, diapun pernah mencatat rekor sebagai manusia pertama hidup sekamar dengan dua ribu ekor kelabang.
Dadang Murtala, Si Manusia Debus asal Manggahang Kecamatan Soreang, berkali-kali atraksi debus yang selalu bukin orang tahan nafas.
Dari Alun-Alun ke arah utara sedikit, tepatnya di jalan Naripan perempatan jalan Braga.
Baca Juga:
Dinsos Majalengka Minta Warga Pahami Mekanisme Perubahan Desil Bansos, Penentu Ada di BPS
Laporan Omdia Semester I-2026: Hisense Pimpin Pasar Global TV 100 Inci ke Atas
ICP DAS-BMP Pamerkan Inovasi TPU Medis di Ajang Medical Manufacturing Asia 2026
Berkantor sesosok pria yang senantiasa berpikir untuk kemajuan seni, bahasa dan budaya Sunda.
Adang S, nama beken kala itu, dialah pendiri Caraka Sundanologi tempat berkumpulnya paramilenial untuk mendalami hal kesundaan.
(Bersambung…)








