HARIAN SUMEDANG – Membangun manusia seutuhnya menjadi esensi utama di lembaga pendidikan SDN Paripurna Jatinangor. Dalam pandangan institusi ini, mendidik bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan sebuah amanah berat untuk membentuk karakter siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut, Paripurna menerapkan konsep “Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh” sebagai pondasi utama.
Dikatakan H. Cecep Abdul Salam, Kepala SDN Paripurna, dalam perjalanannya, tenaga pendidik sering dihadapkan pada tantangan, baik kelelahan fisik maupun dinamika emosional. Namun, dedikasi tetap dikedepankan karena fokus utama Paripurna bukan sekadar kecerdasan kognitif, tetapi membangun jiwa-jiwa yang hidup dalam kebaikan.
Guru di Paripurna mengemban peran ganda: sebagai pengajar yang menanamkan harapan dan sebagai mentor yang menghidupkan nilai-nilai moral. Dalam praktiknya, terdapat tiga pilar penguatan:
Silih Asih: Mengajarkan untuk melihat sesama dengan hati, bukan sekadar ego. Kasih sayang yang tulus menjadi penghubung di antara guru dan murid, menciptakan lingkungan pendidikan yang penuh kesabaran.
Silih Asah: Menanamkan kesadaran akan kesetaraan martabat. Bahwa setiap manusia, tanpa terkecuali, memiliki hak untuk mendapatkan posisi yang pantas.
Silih Asuh: Membangun kesadaran bahwa seluruh komunitas sekolah adalah satu keluarga. Saling menguatkan saat ada yang lemah, mendekat saat ada yang sedih, dan membimbing saat ada yang mengalami kesulitan.
“Kami menyadari bahwa dunia pendidikan tidak selalu mudah. Ada beban dan rasa lelah di dalamnya. Oleh karena itu, kolaborasi dan ikatan batin antar seluruh elemen sekolah menjadi kunci,” ujar Kasek H. Cecep yang pernah dinobatkan sebagai Kepala SD Teladan Se Kabupaten Sumedang.
Melalui pendekatan ini, Paripurna berkomitmen untuk terus menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kedalaman jiwa dan karakter yang mulia, karena pendidikan yang sesungguhnya adalah proses menghidupkan hati. ( Tatang Tarmedi ) ****







