HARIAN SUMEDANG ONLINE — Aksi penyelamatan lingkungan kini tidak lagi sekadar wacana, melainkan tumbuh menjadi gerakan praktis yang berakar dari potensi lokal masyarakat.
Hal tersebut dibuktikan dalam pameran praktik baik (gallery walk) dan sesi pembelajaran tematik pada program SMILE yang digagas Eco Bhinneka Muhammadiyah di Jakarta.
Program yang didukung Ford Foundation dan Kementerian Dalam Negeri ini fokus pada tiga pendekatan utama: ekoliterasi, ekososiopreneurship, serta advokasi dan kampanye.
Pada sesi ekoliterasi, pembahasan difokuskan pada pendidikan lingkungan berbasis keluarga, sekolah, media kreatif, board book, gamifikasi, hingga dialog antarumat beragama.
Sementara pada sesi ekososiopreneurship, para peserta memaparkan pengembangan usaha ramah lingkungan berbasis pemanfaatan limbah.
Upaya ini tidak hanya menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperkuat peran perempuan dan pemuda di tingkat akar rumput.
Susilawati dari ‘Aisyiyah DKI Jakarta mencontohkan peluang mengolah minyak jelantah menjadi sabun serta memanfaatkan kardus bekas sebagai media budidaya jamur.
Di sisi lain, sesi advokasi dan kampanye menyoroti pentingnya pengorganisasian masyarakat, penguatan jejaring pemuda, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan lingkungan.
Rangkaian acara juga dimeriahkan dengan pemutaran film dokumenter The Season of Extinction.
Baca Juga:
Gerakan SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Satukan Komunitas Lintas Iman untuk Aksi Keadilan Iklim
Film tersebut mengajak peserta melihat kehidupan masyarakat yang terhubung dengan kawasan karst Pracimantoro sekaligus merefleksikan hubungan manusia dengan alam melalui sudut pandang ekofeminisme.
Perwakilan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Anam, berharap pendampingan bagi anak muda terus berlanjut agar kepedulian lingkungan berkembang menjadi aksi nyata di sekolah-sekolah.
Melalui pendekatan yang inklusif dan kreatif, gerakan lingkungan ini diharapkan mampu mendorong perubahan kebijakan sekaligus memperkuat ketahanan komunitas lokal. ( Tang )







