Table of Contents
ToggleMENYUSURI JEJAK JALUR ‘SS’ TANJUNGSARI: Riwayat Kereta Api Pemicu Ekonomi dan Benteng Militer Sumedang Tempo Dulu
HARIANSUMEDANG.COM — Kabupaten Sumedang tidak hanya tersohor dengan kekayaan budaya dan prestasi generasinya yang gemilang, Jauh ke belakang, wilayah berhawa sejuk ini menyimpan narasi sejarah besar perkeretapian Indonesia yang kini nyaris terlupakan.
Bagi masyarakat lokal Tanjungsari dan Pamulihan, nama “Jalan SS” bukanlah hal yang asing. Namun, sedikit yang menyadari bahwa akronim tersebut merujuk pada Staatspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda yang pernah membentangkan urat nadi besi di sana pada awal abad ke-20.
Berdasarkan kompilasi catatan sejarah dan dokumen Staatsblad No. 4 tertanggal 4 Januari 1916, berikut adalah kilas balik riwayat jalur kereta api Rancaekek–Tanjungsari yang melegenda.
Ambisi Ekonomi Militer Hindia Belanda
Sejak akhir abad ke-19, komoditas perkebunan seperti teh, kopi, dan karet tumbuh subur di kawasan Jatinangor dan Tanjungsari. Berulang kali pihak swasta mengajukan konsesi pengerjaan jalur transportasi massal, namun selalu ditolak oleh Batavia. Baru pada masa Perang Dunia I, pemerintah Hindia Belanda mengambil alih sendiri proyek ini dengan dua motif utama: ekonomi dan militer.
Secara militer, Belanda memerlukan jalur logistik taktis untuk memobilisasi pasukan dan persenjataan guna mengamankan Bandung—sebagai jantung pertahanan militer mereka—dari potensi serangan luar yang masuk melalui pelabuhan Cirebon. Secara ekonomi, kereta api dipersiapkan untuk mengangkut hasil bumi secara massal dari perkebunan Jatinangor ke pelabuhan.
Pembangunan dimulai dari titik persimpangan Stasiun Rancaekek. Pada tanggal 13 Februari 1921, segmen Rancaekek-Tanjungsari sepanjang kurang lebih 11,2 kilometer resmi dioperasikan oleh Staatsspoorwegen Westerlijnen.
Arsitektur Beton Menembus Krisis Ekonomi (Malaise)
Pembangunan jalur ini terbilang unik sekaligus menantang. Karena dibangun di tengah berkecamuknya Perang Dunia I, harga besi baja melambung tinggi di pasar internasional. Untuk menyiasatinya, para insinyur Belanda memanfaatkan teknologi beton bertulang (gewapend beton) untuk membangun jembatan-jembatan tinggi yang melintasi lembah. Pilihan ini jauh lebih hemat dan melahirkan struktur ikonik yang bertahan hingga satu abad kemudian.
Baca Juga:
SMPN 3 Tanjungsari Borong Prestasi: Juara Futsal Putri Tingkat Jabar hingga Kompetisi Seni
Bupati Majalengka Dukung Penuh Fasilitas MRO di Bandara Kertajati, Tolak Isu Pangkalan Militer
Awalnya, jalur ini dirancang megah untuk menyambung terus dari Tanjungsari menuju Sumedang kota, Citali, hingga berakhir di Cirebon. Namun, impian menyatukan Bandung-Cirebon via Sumedang runtuh seketika saat dunia dihantam krisis ekonomi global mahadahsyat (Malaise) pada tahun 1929 hingga awal 1930-an. Anggaran SS dipangkas habis-habisan, membuat proyek lanjutan dari Tanjungsari menuju Sumedang mangkrak total.
Jejak Peninggalan yang Tersisa saat Ini
Jalur kereta api ini berhenti beroperasi secara total pada masa pendudukan militer Jepang (1942–1945). Jepang membongkar sebagian rel untuk dialihkan bagi kepentingan perang mereka di luar Jawa. Kendati relnya telah raib, artefak-artefak bisu berukuran raksasa masih kokoh berdiri menantang zaman di sepanjang Jatinangor hingga Pamulihan:
-
Gedung Juang 45 Tanjungsari: Bangunan ini merupakan bekas Stasiun Tanjungsari. Jika dicermati, pada dinding bangunan di Jalan Staat Spoors tersebut masih menyisakan papan bertuliskan ejaan lama “Tandjoengsari 885” (merujuk pada ketinggian letak stasiun dari permukaan laut/mdpl).
-
Jembatan Cincin Cikuda: Struktur jembatan beton melengkung tinggi mirip cincin di kawasan Jatinangor yang dahulu dilewati lokomotif uap, kini beralih fungsi menjadi jalan penghubung aktivitas warga dan mahasiswa di sekitar kampus Unpad dan ITB Jatinangor.
-
Viaduk Tanjungsari: Terowongan/underpass beton penyeberangan kereta api yang kini bagian bawahnya telah mengeras menjadi jalan umum penduduk.
-
Sisa Benteng Kembar Tunggul Hideung: Berada di Desa Ciptasari, Pamulihan, terdapat dua pilar beton raksasa tak berujung di tengah area persawahan. Ini adalah saksi bisu pangkal jembatan menuju Sumedang kota yang pengerjaannya terhenti akibat krisis ekonomi 1929.
Harapan Reaktivasi di Masa Depan
Kini, seiring dengan pesatnya perkembangan Jatinangor sebagai kawasan pendidikan tinggi nasional serta hadirnya Bandara Internasional Kertajati, wacana reaktivasi jalur mati Rancaekek-Tanjungsari kerap bergulir di tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi II Bandung.
Meskipun tantangan sosialnya besar lantaran bekas jalur rel tersebut saat ini telah padat menjadi pemukiman penduduk dan fasilitas publik, riwayat sejarah kereta api Tanjungsari tetap menjadi bukti nyata bahwa wilayah Sumedang sejak dulu kala merupakan daerah strategis penyangga kemajuan priangan.
Untuk visualisasi lebih mendalam mengenai kondisi sisa-sisa jalur rel ini di lapangan, Anda dapat menyaksikan dokumentasi penelusuran sejarah melalui Cerita Rel Mati Tanjungsari yang memperlihatkan bagaimana kondisi terkini dari aset perkeretaapian legendaris tersebut. ( Tatang Tarmedi ) ***








