HARIAN SUMEDANG ONLINE — Langkah nyata dalam mendukung program ketahanan pangan nasional terus diperlihatkan oleh para petani di Kabupaten Sumedang.
Ketua Gapoktan Desa Palasari, H. Asep Rosadi, resmi mengimplementasikan pola Pertanian Modern — Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Pola PM – AAS tadi dilaksanakan pada hamparan seluas 5-20 hektare di Kelompok Tani Cikedung, Kecamatan Ujungjaya.
Penerapan pola pertanian modern ini menggunakan sistem Tanam Benih Langsung (TABELA).
Acara tanam perdana dilaksanakan pada Oktober 2026, dihadiri langsung oleh Tim Direktorat Jenderal Pangan Kementerian Pertanian RI.
Hadir pula, Tim Ker Penyuluh Pertanian Kabupaten Sumedang, Penyuluh Pertanian Wilayah Ujungjaya, POPT, serta UPTD Pertanian Kecamatan Ujungjaya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Dirjen Pangan Kementan, Budi, berdialog langsung dengan para petani setempat untuk menyerap aspirasi di lapangan.
Kecamatan Ujungjaya sendiri dikenal sebagai salah satu lumbung padi potensial di Kabupaten Sumedang dengan luas areal pertanian mencapai lebih dari 1.000 hektare.
Budi mengungkapkan bahwa banyak petani di Ujungjaya pada musim tanam 2026 ini mulai beralih menggunakan pola tanam PM-AAS.
Baca Juga:
Sinergi Babinsa dan Warga Tanjungsari Gagalkan Pencurian Yamaha RX King
Sidik Ja’far Hadiri Sertijab Danyonif 301/Prabu Kiansantang
Produk Cokelat lokal Asal Sumedang Sukses Menembus Pasar internasional
Hal ini dipicu oleh keberhasilan hasil demplot (contoh percontohan) yang sebelumnya telah dilaksanakan di Kelompok Tani Sumber Rejeki, Desa Sukamulya.
Pihak Kementan turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para petani di Kecamatan Ujungjaya yang aktif berpartisipasi menyukseskan program ketahanan pangan melalui bimbingan para penyuluh pertanian.
Tentang Bendung Cariang yang sudah beberapa tahun tidak berfungsi optimal, Budi berjanji akan segera mengordinasikannya dengan pihak terkait.
“Hasil kunjungan ini akan kami informasikan ke atasan agar ada langkah perbaikan saluran irigasi, sehingga kebutuhan air petani dapat terpenuhi secara maksimal,” ujar Budi.
Baca Juga:
RSPO RT2026 Bahas Kebakaran di Indonesia, Gerbang Ekspor Tunggal, dan Inklusi Petani Swadaya
Sementara itu, Ketua Gapoktan H. Asep Rosadi menjelaskan bahwa produktivitas lahan setempat sebelumnya mampu mencapai rata-rata 7 ton per hektare dengan metode tanam konvensional.
Dengan beralih ke sistem PM-AAS, ia optimistis produktivitas dan keuntungan petani akan semakin meningkat.
H. Asep Rosadi juga menyampaikan harapannya kepada pemerintah agar terus menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani.
Serta, membantu menyelesaikan berbagai kendala infrastruktur yang dihadapi para petani di lapangan. ( Abdul Haris )








