HARIAN SUMEDANG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka memperkuat infrastruktur pengairan dan ketahanan pangan untuk mengantisipasi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.
Langkah strategis ini direalisasikan melalui pembagian sarana irigasi perpompaan (irpom), irigasi perpipaan (irpip), hingga efisiensi operasional berbasis energi terbarukan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam agenda Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Irigasi Perpompaan dan Perpipaan Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Aula Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka, Rabu (12/8/2026).
Table of Contents
TogglePenyaluran Ribuan Sarana Pengairan & Pemanfaatan Energi Terbarukan
Bupati Majalengka, Eman Suherman, menyampaikan bahwa ketersediaan air merupakan faktor vital untuk mencegah ancaman gagal panen (puso) pada wilayah-wilayah yang mengandalkan sawah tadah hujan, khususnya pada Musim Tanam II (MT2).
“Mengingat kondisi berdasarkan perkiraan BMKG El Nino sedang tinggi-tingginya, saya tidak ingin teman-teman petani mengalami gagal panen,” tegas Bupati Eman di hadapan jajaran OPD, penyuluh pertanian, serta perwakilan kelompok tani dan Gapoktan.
Sebagai bentuk penanganan langsung, Pemkab Majalengka telah menyalurkan 119 unit Irigasi Perpompaan (Irpom) dan 37 unit Irigasi Perpipaan (Irpip).
Selain penyaluran pompa, strategi pengairan juga dioptimalkan melalui:
-
Penanganan Sodetan: Pembuatan sodetan hasil kerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di wilayah utara terbukti meningkatkan potensi panen dari yang sebelumnya hanya 500 hektare menjadi 2.000 hektare secara utuh.
-
Solusi Energi Terbarukan: Pemanfaatan teknologi pompa berbasis solar cell (tenaga surya) diterapkan di wilayah Ligung, Bantarwaru, dan Leuweunghapit untuk menekan biaya operasional bahan bakar solar bagi petani.
-
Rencana Jangka Panjang: Pengusulan pembuatan sodetan baru sepanjang 700 meter di Saluran Sindupraja serta pembangunan embung di wilayah Mekarjaya ke Kementerian Pertanian.
Perlindungan Lahan Pertanian Abadi (LP2B)
Guna memastikan keberlanjutan sektor pertanian jangka panjang, Pemkab Majalengka bekerja sama dengan BPN/ATR juga mengunci kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas 40.700 hektare.
Kebijakan perlindungan lahan ini bertujuan untuk mencegah alih fungsi lahan masif sekaligus menjaga status Majalengka sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Barat.
Baca Juga:
Hari Ini, Kepala Desa Petahana Resmi Serahkan Berkas Pencalonan Pilkades Margajaya
“Dear You” Tayang di Thailand dan Indonesia, Tuai Sambutan Hangat Penonton
Kepala DKP3 Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman, menambahkan bahwa pihaknya bersama para penyuluh terus memetakan titik-titik rawan kekeringan guna memastikan efektivitas pemanfaatan seluruh bantuan pengairan yang disalurkan.
Petani Sambut Optimis Musim Tanam II
Kebijakan serta bantuan alat pengairan ini mendapat respons positif dari kalangan petani. Kohar, salah seorang petani asal Kecamatan Ligung, mengaku sangat terbantu dengan adanya intervensi dari pemerintah daerah.
“Dulu setiap El Nino datang, kami cemas sawah tadah hujan akan kekeringan. Bantuan pompa dan fasilitas energi ini sangat membantu mengurangi beban biaya operasional solar.
Air sekarang bisa mengalir lancar sampai ke ujung sawah, kami makin optimistis hasil panen MT2 ini bisa sukses melimpah,” ungkap Kohar.
Melalui sinergi lintas sektor antara Pemkab Majalengka, BBWS, DKP3, penyuluh, dan kelompok tani, infrastruktur pengairan daerah diharapkan semakin tangguh menghadapi dinamika perubahan iklim global. ( Jurnalis : Abdul Haris )







