Mengetuk Pintu SDN Tegalendah: Menemukan Rumah Kedua di Balik Perbukitan Rancakalong

- Pewarta

Selasa, 9 Juni 2026 - 05:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebaliknya, setiap tamu—tanpa memandang status sosial atau latar belakangnya—akan disambut dengan senyuman tulus yang merekah. Komunikasi yang dibangun oleh kepala sekolah dan para guru berjalan dengan tutur kata yang sangat sopan, santun, dan penuh takzim. Penghormatan yang diberikan kepada tamu tidak terasa dibuat-buat, melainkan lahir dari budaya luhur yang telah mengakar kuat ( Dok.hariansumedang.com / Tatang Tarmedi )

Sebaliknya, setiap tamu—tanpa memandang status sosial atau latar belakangnya—akan disambut dengan senyuman tulus yang merekah. Komunikasi yang dibangun oleh kepala sekolah dan para guru berjalan dengan tutur kata yang sangat sopan, santun, dan penuh takzim. Penghormatan yang diberikan kepada tamu tidak terasa dibuat-buat, melainkan lahir dari budaya luhur yang telah mengakar kuat ( Dok.hariansumedang.com / Tatang Tarmedi )

Mengetuk Pintu SDN Tegalendah: Menemukan Rumah Kedua di Balik Perbukitan Rancakalong

HARIANSUMEDANG.COM  – Kecamatan Rancakalong selalu punya cara sendiri untuk menyapa dunia. Kabut tipis yang merayap di antara pucuk-pucuk pohon  lambat laun tersibak oleh kehangatan matahari. Di salah satu sudut perbukitan hijau yang memanjakan mata itu, berdiri sebuah institusi pendidikan  sarat dengan rasa yang jarang ditemukan di tempat lain: kenyamanan yang mutlak.

Berdasarkan pengamatan mendalam tim redaksi hariansumedang.com, SDN Tegalendah layak dinobatkan sebagai salah satu sekolah paling ramah di Kabupaten Sumedang. Ramah di sini bukan sekadar jargon di atas kertas visi-misi, melainkan sebuah denyut nadi yang hidup dan dirasakan langsung oleh siapa saja yang menapakkan kaki di sana.

Oase Hijau di Atas Bukit

Keunggulan pertama yang langsung menyergap indra penciuman dan penglihatan saat tiba di SDN Tegalendah adalah kemampuannya menyatu dengan alam. Berada di kawasan perbukitan Rancakalong yang asri, sekolah ini diberkahi dengan lanskap lanskap alam yang menawan.

Namun, keindahan alami itu tidak dibiarkan liar. Di bawah manajemen sekolah yang visioner, lingkungan tersebut ditata dengan begitu apik. Halaman sekolah bersih dari sampah, tanaman hias dirawat dengan presisi, dan ruang-ruang terbuka hijau sengaja diciptakan untuk mendukung psikologis belajar siswa.

“Berada di sini seperti tidak sedang berada di sekolah formal yang kaku, melainkan di sebuah oase. Udara bersih dan penataan taman yang asri membuat pikiran langsung jernih,” ujar salah satu tim peliput hariansumedang.com.

Udara yang bersih, gemerisik daun yang tertiup angin, dan tata ruang yang estetis menciptakan atmosfer belajar yang jauh dari stres. Sekolah ini berhasil membuktikan bahwa lingkungan yang ramah ekologi adalah fondasi utama dalam membentuk karakter siswa yang mencintai alam.

Menghidupkan Kembali Corak Kehangatan Nusantara

Jika keramahan lingkungan adalah daya tarik visualnya, maka keramahan manusianya adalah jiwa dari SDN Tegalendah. Di zaman di mana birokrasi kerap terasa kaku dan penuh sekat, sekolah ini justru meruntuhkan dinding-dinding pembatas tersebut melalui sikap kepala sekolah, guru, hingga stafnya.

Menjadi tamu di SDN Tegalendah adalah sebuah pengalaman yang menyejukkan hati. Sejak langkah pertama melewati gerbang, tidak ada pandangan sinis, curiga, atau acuh tak acuh—sebuah fenomena yang sayangnya masih sering dijumpai di beberapa instansi publik.

Sebaliknya, setiap tamu—tanpa memandang status sosial atau latar belakangnya—akan disambut dengan senyuman tulus yang merekah. Komunikasi yang dibangun oleh kepala sekolah dan para guru berjalan dengan tutur kata yang sangat sopan, santun, dan penuh takzim. Penghormatan yang diberikan kepada tamu tidak terasa dibuat-buat, melainkan lahir dari budaya luhur yang telah mengakar kuat.

Menyuguhkan air dan penganan kecil bukan sekadar formalitas basa-basi meja tamu, melainkan simbol dari keterbukan hati. Di meja-meja diskusi sekolah ini, setiap obrolan mengalir hangat, laksana berbincang dengan keluarga sendiri di ruang tamu rumah.

Lebih dari Sekadar Tempat Belajar

Konsep “Sekolah Ramah” yang diusung SDN Tegalendah pada akhirnya memberikan standar baru bagi dunia pendidikan di Sumedang. Ketika lingkungan fisik yang asri berpadu harmonis dengan keluhuran budi pekerti para pendidiknya, maka sekolah berubah fungsi. Ia tidak lagi hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan rumah kedua yang dirindukan.

Bagi hariansumedang.com, SDN Tegalendah di Kecamatan Rancakalong telah berhasil merawat esensi tertinggi dari pendidikan: memanusiakan manusia, sedari dalam pikiran, lingkungan, hingga perbuatan. (Tatang Tarmedi) ***

Berita Terkait

Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu
Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa
H. Edeng Sutarya:  Figur ‘Orang Tua’ Pendidikan Sumedang di Akhir Pengabdian
Dari Asongan ke Kursi Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif H. Apit Mengubah Garis Takdir di Jatinunggal
Mengajar dengan Hati, Memimpin dengan Seni: Kiprah Transformatif Dr. Cucu Suhartini di SMPN 4 Jatinangor
Konsumsi Kopi dan Risiko Diabetes: Manfaat, Mitos, dan Aturan Amannya
Waspada Predator Siber Intai Anak-Anak Lewat Game Online
Menembus Batas Ritual: Menggali Makna Konotatif Kurban yang Terlupakan

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 05:47 WIB

Mengetuk Pintu SDN Tegalendah: Menemukan Rumah Kedua di Balik Perbukitan Rancakalong

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:29 WIB

Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:56 WIB

Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:46 WIB

H. Edeng Sutarya:  Figur ‘Orang Tua’ Pendidikan Sumedang di Akhir Pengabdian

Rabu, 3 Juni 2026 - 03:48 WIB

Dari Asongan ke Kursi Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif H. Apit Mengubah Garis Takdir di Jatinunggal

Berita Terbaru