Editorial: Mengubur Sisa “Sampah” Masa Lalu, Menjemput Kesan Pertama MPLS yang Menginspirasi

- Pewarta

Selasa, 7 Juli 2026 - 06:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kesan pertama memiliki sifat yang abadi. Ia adalah jangkar memori yang tidak hanya menetap di kepala individu, tetapi juga memiliki daya tular yang kuat ke generasi berikutnya melalui sebuah cerita.

Dalam konteks dunia pendidikan, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) adalah gerbang utama yang menentukan warna dari kesan pertama tersebut.

Sayangnya, sejarah mencatat bahwa gerbang ini acapkali diwarnai oleh “sampah-sampah sekolah”—sebuah istilah untuk menyebut sisa-sisa feodalisme, perpeloncoan, dan intimidasi berselubung kedisiplinan.

Sudah saatnya sekolah-sekolah berbenah total demi melahirkan narasi baru yang jauh lebih positif.

Generasi X dan milenial tentu masih ingat betul bagaimana riuhnya masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) atau Masa Orientasi Siswa (MOS) zaman dulu.

Tanpa sadar, saat berkumpul bersama anak cucu, kita sering membandingkan betapa berat dan absurdnya tugas-tugas masa lalu—mulai dari atribut aneh hingga bentakan yang tidak perlu.

Meskipun kini diceritakan dengan nada gurauan atau pembanding bahwa “MPLS zaman sekarang sudah enak”, esensi dari cerita tersebut tetap membawa residu negatif. Jejak trauma kolektif itu tanpa sadar terus diwariskan.

Jika institusi pendidikan ingin dikenal sebagai tempat yang humanis dan mencerahkan, maka praktik perpeloncoan harus benar-benar disapu bersih dari pekarangan sekolah.

MPLS hari ini harus bertransformasi menjadi ruang yang inklusif, aman, dan memicu kreativitas siswa baru.

Melirik dari berbagai jejak digital di media sosial dan portal berita dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekolah yang mulai cerdas mengemas MPLS menjadi ajang yang sangat dirindukan, bukan ditakuti.

Berikut adalah beberapa tren positif yang layak diadopsi:

  • Kampanye Eco-Green dan Pengolahan Sampah Nyata

    Alih-alih membawa barang-barang aneh yang berakhir menjadi sampah visual, sejumlah sekolah di kota-kota besar kini mewajibkan siswa baru membawa bibit tanaman atau melakukan aksi pilah sampah di lingkungan sekitar sekolah. Ini adalah cara konkret mengajarkan tanggung jawab lingkungan sejak hari pertama.

  • Literasi Digital dan Cyberbullying Awareness

    Menjawab tantangan zaman, banyak sekolah yang memanfaatkan MPLS untuk mengundang pakar IT atau kepolisian guna mengedukasi siswa tentang etika bermedia sosial. Mengingat tingginya angka perundungan digital (cyberbullying), pembekalan ini jauh lebih krusial ketimbang menghafal nama-nama senior.

  • Mental Health Day & Ice Breaking Interaktif

    Jejak digital di platform seperti TikTok dan Instagram menunjukkan tren MPLS yang diisi dengan sesi pengenalan kesehatan mental remaja dan art therapy. Siswa baru diajak mengenali potensi diri dan mengatasi kecemasan masuk ke lingkungan baru melalui cara yang menyenangkan dan interaktif.

  • Pameran Bakat (Talent Show) Tanpa Tekanan

    Sekolah kini lebih banyak memfasilitasi unjuk bakat yang sifatnya sukarela dan apresiatif. Konsep ini berhasil mengubah stigma “maju ke depan untuk dihukum/dipermalukan” menjadi “maju ke depan untuk diapresiasi”.

Catatan Penting untuk Manajemen Sekolah: Tugas mendidik bukanlah tentang bagaimana membuat siswa baru tunduk karena takut, melainkan bagaimana membuat mereka segan karena respek dan terinspirasi.

Memutus rantai cerita buruk masa lalu adalah tanggung jawab kolektif pihak sekolah, guru, dan pengurus OSIS.

Ketika sekolah berhasil menyapu bersih “sampah” perpeloncoan dan menggantinya dengan kehangatan serta inovasi, maka cerita yang dibawa pulang oleh siswa baru kepada orang tua mereka adalah cerita tentang harapan, persahabatan, dan masa depan.

Mari ciptakan kesan pertama yang tidak hanya abadi, tetapi juga layak untuk dibanggakan hingga lintas generasi.  (redaksi )

Berita Terkait

SMPN 1 Wado Terapkan Teknologi Pembakaran Sampah dengan Uap Air
Gegara 1,5 Ton Ikan dan Uang Terbang: Kolam Al Kamil Sumedang Mendadak Penuh Sesak ‘Manusia Air’
Menavigasi Masa Depan Jurnalisme: Antara Akselerasi Otomatisasi dan Reimajinasi Profesi
Eksistensi Dodol Ibu Kita khas Tanara: Menjaga Resep Warisan di Tengah Gempuran Jajanan Modern
Istana Bunga Plastik Sumedang Hadirkan Solusi Dekorasi Meja Kerja Elegan dan Terjangkau
Unik! Pohon Kelapa “Menjelajah” Tanah Sebelum Menjulang Tinggi di Tanjungsari Sumedang
Menerjang Hujan dan Ombak Demi Nyawa: Perjuangan Bidan Vera di Pesisir Langkat
Meniti Ridho di Antara Berkas Desa dan Gema Masjid Nurul Huda

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:58 WIB

SMPN 1 Wado Terapkan Teknologi Pembakaran Sampah dengan Uap Air

Senin, 17 Agustus 2026 - 16:44 WIB

Gegara 1,5 Ton Ikan dan Uang Terbang: Kolam Al Kamil Sumedang Mendadak Penuh Sesak ‘Manusia Air’

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:45 WIB

Menavigasi Masa Depan Jurnalisme: Antara Akselerasi Otomatisasi dan Reimajinasi Profesi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 08:27 WIB

Eksistensi Dodol Ibu Kita khas Tanara: Menjaga Resep Warisan di Tengah Gempuran Jajanan Modern

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 17:38 WIB

Istana Bunga Plastik Sumedang Hadirkan Solusi Dekorasi Meja Kerja Elegan dan Terjangkau

Berita Terbaru