HARIAN SUMEDANG — Usia boleh saja menggerogoti fisik, namun gelora kasih untuk alam tak pernah padam. Di kala langkah kaki mulai bergetar dan helaian uban putih mendominasi rambut serta janggut panjangnya, sosok yang akrab disapa Dewa Geulis tetap konsisten menapaki lereng Gunung Geulis. Bagi sang pejuang lingkungan ini, ada atau tidak adanya proyek pemerintah maupun swasta bukanlah alasan untuk berhenti memulihkan kekayaan alam yang kian terancam.
Kehadirannya di Gunung Geulis bukan sekadar rutinitas, melainkan dedikasi hidup. Dedikasi tersebut ia wujudkan melalui Forum Peduli Gunung Geulis, sebuah wadah perjuangan konservasi yang ia pimpin demi mengembalikan keasrian bentang alam setempat.
Table of Contents
ToggleKehangatan di Saung Pertemuan
Markas Forum Peduli Gunung Geulis—sebuah saung sederhana yang menjadi titik kumpul para relawan—selalu hidup oleh semangat kekeluargaan yang dibawanya. Dewa Geulis dikenal mampu merangkul setiap anggota dengan hangat.
“Di saung ini, kami tidak hanya bicara soal pohon dan tanah, tapi soal keterikatan batin. Tradisi ngumpul, ‘maliwet’, dan makan bersama menjadi bahan bakar kebersamaan kami untuk terus bergerak,” ujar Saepudin alias Sang Dewa Geulis itu.
Namun, di kala saung mendadak sepi dan para anggota tengah bertugas di luar, Dewa Geulis tak lantas berdiam diri. Dalam kesendirian di saung tersebut, jemarinya yang mulai renta tetap aktif mencoretkan ide, merancang strategi, serta menyusun konsep konservasi jangka panjang untuk masa depan Gunung Geulis.
Sang “Dewa” Penjaga Kehidupan
Julukan “Dewa Gunung Geulis” yang disematkan kepadanya bukanlah bentuk pengagungan yang berlebihan, melainkan kepatutan atas konsistensi dan ketulusan hatinya. Di tengah gempuran modernisasi dan minimnya perhatian terhadap pelestarian lingkungan, keteguhan sikap Dewa Geulis menjadi tamparan sekaligus inspirasi bagi generasi muda.
Bagi Dewa Geulis, menjaga gunung adalah menjaga kehidupan itu sendiri. Selama napas masih berhembus dan kaki masih sanggup melangkah, hijau Gunung Geulis akan terus menjadi warisan utama yang akan ia perjuangkan hingga akhir hayat.
( jurnalis Tatang Tarnedi )







