HARIAN SUMEDANG — Biasanya, seorang kepala sekolah disibukkan dengan tumpukan berkas administrasi, rapat koordinasi, atau memantau jalannya kelas dari balik meja kerja. Namun, pemandangan berbeda akan Anda temukan jika berkunjung ke SMPN 9 Sumedang.
Alih-alih hanya memberi instruksi, sang kepala sekolah, Jatnika Pria Utama, justru sering memegang kuas, berlumuran cat, dan sibuk “corat-coret” di dinding benteng sekolah.
Bukan tanpa alasan, aksi nyentrik ini bermula dari kegelisahannya melihat dinding sekolah yang awalnya kosong melompong, gersang, dan tanpa makna.
Didorong keinginan untuk memberikan edukasi yang visual dan kekinian bagi para muridnya, Jatnika memutuskan untuk turun gunung. Merancang dan melukis sendiri deretan mural literasi yang sarat akan pesan moral.
Fokus utama dari “galeri jalanan” karya Kepsek satu ini adalah kampanye masif melawan perundungan. Dengan goresan tangannya sendiri.
Ia menggambarkan visual seorang anak yang sedang dirundung, lengkap dengan panduan informatif mengenai jenis-jenis bullying yang wajib dihindari siswa:
-
Kekerasan Fisik: Seperti memukul, menendang, mencekik, menjambak, melukai, mendorong, hingga merusak barang.
-
Kekerasan Psikis: Seperti mengejek, mengolok-olok, dan mempermalukan teman.
Tidak berhenti di situ, kalimat tegas bertuliskan “Anak Sekolah Tidak Melakukan Bullying” terpampang besar, seolah menjadi pengingat mutlak bagi siapa saja yang lewat.
Pesan Utama untuk Siswa: Di sudut lain, Jatnika juga menanamkan karakter lewat tulisan reflektif seperti “Budi Pekerti Lebih Penting dari Prestasi” dan “Adab Lebih Utama dari Prestasi”. Sebuah sentilan halus bahwa nilai akademik tinggi tidak akan berarti apa-apa tanpa etika yang baik.
Sebagai penutup dari rangkaian mural edukatif tersebut, Pak Jatnika menyajikan pemandangan alam yang menyegarkan mata.
Baca Juga:
Mariano Peralta: Pemain Terbaik Liga yang Mendadak Jadi “Teka Teki Silang” di Bursa Transfer
Bupati Majalengka Resmikan Gedung Baru SMPN 1 Leuwimunding Senilai Rp1,1 Miliar dari Banpres
Satu area sengaja disulap menjadi pojok baca mini yang nyaman lengkap dengan karpet sintetis. Ruang yang dulunya diabaikan, kini berubah menjadi tempat favorit baru bagi para siswa untuk bersantai sambil memperluas wawasan.
Mural di sekolah mungkin sudah biasa kita lihat, namun melihat seorang kepala sekolah yang mendedikasikan waktu, tenaga, dan kreativitasnya langsung di dinding pembatas? Jelas ini pemandangan yang langka.
Lewat coretan kuasnya, atnika tidak hanya sedang mempercantik fasilitas sekolah, tetapi juga sedang melukis masa depan karakter anak didiknya—satu demi satu sapuan warna. ( Red ) ***







