HARIAN SUMEDANG — Biasanya, seorang kepala sekolah disibukkan dengan tumpukan berkas administrasi, rapat koordinasi, atau memantau jalannya kelas dari balik meja kerja.
Namun, pemandangan berbeda akan Anda temukan di SMP Negeri 9 Sumedang. Sang Kasek Jatnika Pria Utama, tak segan berlumuran cat, dan “corat-coret” di dinding benteng sekolah.
Bukan tanpa alasan, aksi nyentriknya itu bermula dari kegelisahan melihat dinding sekolah yang kosong melompong, gersang, dan tanpa makna.
Didorong keinginan untuk memberikan edukasi yang visual dan kekinian bagi para muridnya, Kasek Jatnika memutuskan untuk turun gunung.
Merancang dan melukis sendiri deretan mural literasi yang sarat akan pesan moral. Terutama, kampanye masif melawan perundungan. Dengan goresan tangannya sendiri.
Ia menggambarkan visual seorang anak yang sedang dirundung, lengkap dengan panduan informatif mengenai jenis-jenis bullying yang wajib dihindari siswa:
-
Kekerasan Fisik: Seperti memukul, menendang, mencekik, menjambak, melukai, mendorong, hingga merusak barang.
-
Kekerasan Psikis: Seperti mengejek, mengolok-olok, dan mempermalukan teman.
Tidak berhenti sampai di situ, kalimat tegas bertuliskan “Anak Sekolah Tidak Melakukan Bullying” terpampang besar, seolah menjadi pengingat mutlak bagi siapa saja yang lewat.
Disudut lain, Jatnika juga menanamkan karakter lewat tulisan reflektif seperti “Budi Pekerti Lebih Penting dari Prestasi” dan “Adab Lebih Utama dari Prestasi”. Sebuah sentilan halus bahwa nilai akademik tinggi tidak akan berarti apa-apa tanpa etika yang baik.
Baca Juga:
Gegara 1,5 Ton Ikan dan Uang Terbang: Kolam Al Kamil Sumedang Mendadak Penuh Sesak ‘Manusia Air’
Bupati Majalengka Paparkan Capaian Pembangunan Utama pada Peringatan HUT ke-81 RI
Sebagai penutup dari rangkaian mural edukatif tersebut, Jatnika menyajikan pemandangan alam yang menyegarkan mata. Satu area yang disulap menjadi pojok baca mini yang nyaman lengkap dengan karpet sintetis.
Ruang yang dulunya diabaikan, kini berubah menjadi tempat favorit bagi para siswa untuk bersantai sambil memperluas wawasan keilmuannya.
Mural di sekolah mungkin sudah biasa kita lihat, namun ketika semuanya dikerjakan sendiri oleh kepala sekolahnya, tentu menjadi hal yang langka.
Lewat coretan kuasnya, Kasek Jatnika tidak hanya mempercantik fasilitas sekolah, tetapi juga melukis masa depan karakter anak didik untuk bekal hidupnya. ( Red ) ***







