MASA-MASA berseragam SPP-SPMA (Sekolah Pertanian Pembangunan – Sekolah Pertanian Menengah Atas) pertengahan era 80-an memang punya cerita tersendiri.
Sebagai sesama jebolan SPMA angkatan 84/85—meski beda almamater—saya tahu betul bagaimanakah gemblengan kurikulum pertanian zaman itu.
Saat itu, kurikulum kita masih terbilang ekuivalen. Mau urusan tanam-menanam, ilmu peternakan, sampai perikanan, semuanya dipelajari.
Lulusan SPMA zaman itu dididik dengan satu visi utama: jadi petani mandiri yang tangguh.
Namun, sahabat saya yang satu ini agak unik. Hingga di penghunjung masa tugasnya sebagai Kepala SMP Negeri 1 Tanjungsari, mungkin belum banyak yang tahu latar belakangnya.
Sosok di balik Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kabupaten Sumedang ini ternyata berakar dari tanah pertanian yang sama dengan saya. Dialah Drs. Edeng Sutarya.
Jujur saja, kalau mengingat-ingat masa sekolah dulu, kami dipersiapkan untuk memegang cangkul, mengurus ternak, atau mengelola empang. Tapi jalan hidup Kang Edeng ini berbelok arah. Ia melangkah ke dunia pendidikan.
Hebatnya, meski tidak memulainya dari fondasi kejuruan pendidikan menengah, tangan dinginnya di dunia pendidikan Sumedang tak perlu diragukan lagi.
Rekam jejaknya mencatat beberapa SMP Negeri di Sumedang berhasil ia pimpin dengan baik, hingga akhirnya dipercaya memegang pimpinan tertinggi di forum MKKS.
Baca Juga:
Pemdes Padaasih Tuntaskan Rehab 3 Rumah Rutilahu dari Dana Desa 2026
Desa Cipacing Diprioritaskan Jadi Percontohan Desa Siaga Tuberkulosis di Jatinangor
Tiga Desa di Kecamatan Ujungjaya Akan Gelar Pilkades Serentak
Latar belakang pertaniannya justru membekalinya dengan daya tahan, kesabaran, dan kemampuan “mendidik” yang organik.
“Sama seperti menanam bibit hingga berbuah, memimpin sekolah dan mendidik siswa butuh kesabaran dan proses yang tak bisa diinstankan,” mungkin begitu cermin filosofi SPMA yang ia bawa ke sekolah.
Kini, menjelang masa purna baktinya, panggilan tanah rupanya terlalu kuat untuk diabaikan. Kang Edeng tampaknya akan kembali meraih dunia yang pernah membesarkannya dulu.
Ruang nostalgia itu tak sekadar angan-angan; ia sudah mempersiapkannya matang-matang. Sebuah ruang nyaman telah ia bangun tepat di tengah kebun miliknya di kawasan Situraja.
Di sanalah kelak, setelah menanggalkan jabatannya di dunia pendidikan, Kang Edeng akan kembali bertani dan berbudidaya—menjelma kembali menjadi seorang “petani mandiri”, persis seperti visi yang kerap didoktrinkan kepada kami di bangku SPP-SPMA puluhan tahun lalu.
Sebagai rekan satu angkatan di dunia SPMA, saya cuma bisa tersenyum bangga. Selamat memasuki masa purna bakti untuk Kang Edeng Sutarya. Wilujeng kembali ke tanah, Kang! ( Tatang Tarmedi )







