Upacara Ngalaksa Tahun Ini Diwarnai Penyerahan Sertifikat Warisan Budaya Tak Benda

- Pewarta

Rabu, 3 Juli 2024 - 20:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Upacara adat Ngalaksa kembali digelar diwarnai penyerahan sertifikat warisan budaya dunia tak benda ( Tang / sumedangkab.go.id )

Upacara adat Ngalaksa kembali digelar diwarnai penyerahan sertifikat warisan budaya dunia tak benda ( Tang / sumedangkab.go.id )

HARIANSUMEDANG.COM — Pj Bupati Sumedang Yudia Ramli membuka Upacara Adat Ngalaksa di Desa Wisata, Rancakalong, Selasa (2/7/2024).

Ngalaksa rutin setiap tahun merupakan bentuk ungkapan syukur hasil panen melimpah ruah, serta doa agar masyarakat selalu dilindungi dan diberkahi.

Ngalaksa berlangsung meriah diisi berbagai pertunjukan seni budaya, diantaranya Pagelaran “Nyi Pohaci Ngaraksa Diri”, Seni Tarawangsa dan Pencak Silat.

Acara dirangkaikan pula dengan penyerahan Sertifikat dari Kemendikbud tentang Penetapan Ngalaksa dan Tarawangsa sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Jawa Barat

Sertifikat diberikan epada Camat Rancakalong dan pelaku seni dilanjutkan penyerahan voucher belanja untuk 5 KK miskin ekstrem di Rancakalong.

Pj. Bupati Sumedang Yudia Ramli mengatakan, upacara adat Ngalaksa Rancakalong merupakan salah satu kekayaan budaya yang telah menjadi milik masyarakat Sumedang.

Kata dia, ngalaksa aset tak ternilai dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan daerah, terlebih Sumedang telah Puseur Budaya Sunda”.

“Upaya dilakukan harus dengan tata cara yang sistematis. Dengan mengerti dan membanggakan budaya lokal bukan berarti bukan agul ku payung butut

melainkan harus mampu mencari hikmah di balik kearifan karuhun untuk mengatasi berbagai tantangan yang sedang kita hadapi saat ini,” ungkapnya.

Pj. Bupati Yudia mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya lokal yang harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

“Momentum ini sebagai upaya untuk menjaga serta menumbuhkan kembali falsafah dan budaya luhur masyarakat Sunda demi kepentingan dan kelangsungan kehidupan bagi generasi mendatang,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Upacara Adat Ngalaksa Mumun Sutarsah mengatakan, Upacara Adat Ngalaksa merupakan bagian penting dari warisan budaya masyarakat Rancakalong.

“Selain sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa dan pelestarian budaya, upacara ini juga menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan di antara warga masyarakat,” katanya

Mumun menjelaskan, penyelenggaraan Ngalaksa ini dilaksanakan selama sepekan tanggal 2 – 7 Juli 2024 dengan diisi berbagai rangkaian acara.

Diharapkan melalui kegiatan tersebut, lanjutnya, kekayaan budaya lokal dapat terus dijaga, dilestarikan dan tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas masyarakat Rancakalong.

“Semoga semangat kebersamaan dan gotong royong yang terpancar dalam upacara Adat Ngalaksa ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjaga keharmonisan dan keberagaman budaya,” katanya.

Upacara adat Ngalaksa di Desa dan Kecamatan Rancakalong semakin meriah dengan adanya pagelaran

Koordinator Pengarah Pagelaran Nyi Pohaci Wendy Kardiana mengatakan, Nyi Pohaci atau Dewi Sri dalam kepercayaan masyarakat setempat merupakan gambaran dewi padi yang memberikan kesuburan.

Upacara adat Ngalaksa menjadi simbol penting yang mengingatkan manusia untuk dapat menjaga keseimbangan antara sifat baik dan buruk dalam diri mereka, sebagaimana yang diwakili oleh Nyi Pohaci. ”

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia juga memiliki sifat-sifat yang beragam, yang diwakili oleh Nyi Pohaci dengan simbol padi beras merah dan padi beras putih.

Nyi Pohaci ini melambangkan sifat manusia yang tak lepas dari dua sisi, baik dan buruk, amarah dan mutmainah,” ujarnya.

Dikatakan Wendy, esensi Ngalaksa sebagai rasa syukur yang kaya akan makna menjadi ajang untuk merenungkan diri dan memperkuat hubungan manusia dengan alam.

“Prosesi Nyi Pohaci Ngaraksa Diri merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi Ngalaksa yang sudah turun-temurun kami lestarikan,” ungkapnya.

Untuk persiapan pagelaran dibutuhkan waktu kurang lebih satu bulan dengan melibatkan para pelaku seni dari Sanggar Arimbi.

“Pagelaran ini di bawah binaan Disparbudpora dengan melibatkan para pelaku seni dari Sanggar Arimbi. Harapannya, mudah-mudahan generasi muda bisa tahu bahwa esensi Ngalaksa ini sebagairasa syukur,” katanya.

( Tang / Sumedangkab.go.id ) ***

Berita Terkait

Sumedang Sambut Ratusan Mahasiswa Unpad, Geoteater Rancakalong Kini Jadi Ruang Belajar Terbuka
Terbukti Hemat Biaya dan Anakan Melimpah, Poktan Sumber Rejeki Siap Akselerasi PM AAS di Ujungjaya
Sumedang Gelar Pilkades Digital 2026, Kecamatan dari Majalengka Gelar Studi Banding
Pemkab Sumedang Luncurkan LMS Numerasi bagi 5.000 Guru SD
TK Asy-Syatibiiyyah Edukasi Siswa Mengenal Profesi dan Lembaga Negara di DPRD Sumedang
Disambut Hangat Ratusan Warga, Incumbent Cucun Alfian Siap Tuntaskan Pembangunan Desa Ujungjaya
Kampanye Hari Pertama Kades Nanjungwangi: Dadi Supriyadi Usung Visi “RAMAH”
Mengisi Kekosongan Dusun 2, Supriyatman Resmi Dilantik Jadi Anggota BPD PAW Desa Marongge

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 15:46 WIB

Sumedang Sambut Ratusan Mahasiswa Unpad, Geoteater Rancakalong Kini Jadi Ruang Belajar Terbuka

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:27 WIB

Terbukti Hemat Biaya dan Anakan Melimpah, Poktan Sumber Rejeki Siap Akselerasi PM AAS di Ujungjaya

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:23 WIB

Sumedang Gelar Pilkades Digital 2026, Kecamatan dari Majalengka Gelar Studi Banding

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:34 WIB

Pemkab Sumedang Luncurkan LMS Numerasi bagi 5.000 Guru SD

Senin, 26 Oktober 2026 - 12:12 WIB

TK Asy-Syatibiiyyah Edukasi Siswa Mengenal Profesi dan Lembaga Negara di DPRD Sumedang

Berita Terbaru