Mungkinkah Diterapkan Aturan Pendidikan Formal Itu Tidak Perlu Siswa Harus Belajar Tiap Hari di Sekolah ?

- Pewarta

Minggu, 16 Februari 2025 - 10:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh  : TATANG TARMEDI                      Jurnalis Hariansumedang.com

HARIANSUMEDANG.COM – Aturan pendidikan dari waktu ke waktu terus mengalami perbaikan. Pada akhirnya, mungkin saja, sampai pada aturan, pendidikan formal Itu tidak perlu siswa belajar tiap hari di sekolah.

Misalnya, cukup seminggu tiga hari saja, ketika senin sekolah, selasa libur, rabu kembali sekolah, kamis libur lagi, dan sabtu sekolah, minggu libur untuk senin kembali sekolah lagi.

Pertimbangannya, tiap hari anak belajar di sekolah itu sebenarnya memberi tekanan yang terus-menerus kepada fisik anak, hingga anak merasa lelah untuk bisa belajar secara maksimal.

Ketika anak belajar tiap hari di sekolah sedikit banyak akan mempengaruhi daya serap anak terhadap pembelajaran dari guru, ujung-ujungnya kualitas siswa tidak akan lebih baik.

Karena terjadi kelelahan, daya serap materi pembelajaran akan tidak maksimal, untuk jangka pendek anak bisa resfon, setelah beberapa waktu, resfon itu akan kembali ke titik jenuh.

Apalagi, bila ada penambahan tekanan dari pihak sekolah. Misal, sistem mengajar gurunya yang “rada-rada galak”, banyak memberikan tugas yang bikin anak grogi dan sebagainya.

Padahal, berhasilnya pembelajaran itu, lebih besar ditentukan tingkat ketenangan bathin anak. Ketika bathin anak miskin penekanan atau suasana enjoy, niscaya pengajaran di sekolah akan tertanam kokoh pada jiwa anak.

Ini bisa saja disebut ‘Merdeka Belajar yang Sesungguhnya’. Suasana ketika anak bisa belajar di sekolah dengan tanpa terlalu kelelahan. Karena, salah satunya anak tidak dipaksakan untuk belajar tiap hari di sekolah.

Anak tiap hari harus belajar di sekolah juga bisa saja mempengaruhi pemenuhan asupan gizi keluarga. Sebab, bersekolah jaman sekarang itu tidak lepas dengan bekal ( uang jajan).

Bohong, ada yang mengatakan, kenapa bekal jadi masalah, sekolah bukan untuk jajan, tapi untuk belajar. Realitanya, setiap anak tentu akan mengharapkan bekal, besar kecilnya relatif.

Bahkan, orang tua akan merasa kasihan kepada anaknya bila tidak memberi bekal. Ketika orang tua tidak memiliki bekal, adakalanya ortu membiarkan anaknya tidak sekolah.

Bajet untuk bekal sekolah SD, rata-rata lima ribu rupiah per hari, hitungan dalam sebulan diminus hari minggu libur, diperkirakan Rp.650 ribu. Anak SMP bisa saja nilai lima ribu itu dianggap kecil.

Bajet senilai itu, bagi orang tua yang hidupnya pas-pasan, akan dianggap besar, hingga berefek pada pemenuhan nilai gizi keluarga, ketika adik si siswa itu balita, bisa saja berdampak stunting.

Ketika sekolah seminggu hanya tiga hari, akan mengurangi beban orang tua hampir setengahnya. Artinya, orang tua tidak akan terlalu terbebani dalam menyekolahkan anaknya.

Prinsif sukses dulu baru bahagia, seiring dengan dinamika kekinian, kadang kurang rekefan. Sebagian ada yang setuju, bahagia dulu baru bisa sukses.

Bahagia bagi anak, dalam hubungannya dengan pendidikan, tidak lepas dari tidak terlalu kelelahan, guru ramah mengajar dan tidak memberi tugas yang bikin anak grogi.

Dengan memberi kebahagiaan kepada anak, salah satunya tidak memporsir anak tiap hari sekolah, terciptanya suasana sekolah yang nyaman anak, akan muncul kesuksesan anak belajar. ***

Berita Terkait

Desain Ruang Kelas  Dinilai Masih Sarat Intervensi Politik, Guru Besar ITB Desak Evaluasi Total
Waspada Asam Urat Kronis: Jangan Tukar Nyeri Sendi dengan Kerusakan Lambung dan Ginjal
Mengetuk Pintu SDN Tegalendah: Menemukan Rumah Kedua di Balik Perbukitan Rancakalong
Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu
Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa
H. Edeng Sutarya:  Figur ‘Orang Tua’ Pendidikan Sumedang di Akhir Pengabdian
Dari Asongan ke Kursi Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif H. Apit Mengubah Garis Takdir di Jatinunggal
Mengajar dengan Hati, Memimpin dengan Seni: Kiprah Transformatif Dr. Cucu Suhartini di SMPN 4 Jatinangor

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 11:07 WIB

Desain Ruang Kelas  Dinilai Masih Sarat Intervensi Politik, Guru Besar ITB Desak Evaluasi Total

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:45 WIB

Waspada Asam Urat Kronis: Jangan Tukar Nyeri Sendi dengan Kerusakan Lambung dan Ginjal

Selasa, 9 Juni 2026 - 05:47 WIB

Mengetuk Pintu SDN Tegalendah: Menemukan Rumah Kedua di Balik Perbukitan Rancakalong

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:29 WIB

Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:56 WIB

Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa

Berita Terbaru