Waspada Asam Urat Kronis: Jangan Tukar Nyeri Sendi dengan Kerusakan Lambung dan Ginjal

- Pewarta

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Waspada Asam Urat Kronis: Jangan Tukar Nyeri Sendi dengan Kerusakan Lambung dan Ginjal

Pernahkah Anda merasakan nyeri yang amat sangat, panas, dan bengkak secara tiba-tiba di area persendian—terutama di ibu jari kaki, pergelangan kaki, atau lutut? Jika iya, Anda harus waspada. Bisa jadi itu adalah alarm awal dari penyakit Asam Urat Kronis.

Mari kita bedah secara ilmiah namun santai, apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh kita, dan mengapa kebiasaan berobat yang salah justru bisa berakibat fatal.

Bagaimana Asam Urat Berubah Menjadi “Jarum” di Sendi?

Secara alami, tubuh kita menghasilkan asam urat sebagai sisa metabolisme setelah mengurai zat bernama purin (yang banyak ditemukan dalam makanan seperti jeroan, seafood, melinjo, atau emping). Normalnya, asam urat ini akan larut dalam darah, disaring oleh ginjal, lalu dibuang melalui air seni.

Namun, masalah besar dimulai ketika:

  1. Produksi berlebih: Kita terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi purin.

  2. Fungsi pembuangan menurun: Ginjal kita sedang tidak prima untuk menyaringnya.

Ketika kadar asam urat di dalam darah sudah terlalu tinggi dan tidak bisa lagi dibuang oleh ginjal, zat ini tidak akan hilang begitu saja. Asam urat akan mulai mengendap dan mengerak di dalam sendi-sendi tubuh.

Celakanya, endapan ini berbentuk kristal-kristal tajam mirip jarum atau pecahan kaca (disebut kristal monosodium urat). Bisa dibayangkan, ketika sendi Anda bergerak dan bergesekan dengan jutaan “jarum mikroskopis” ini, rasa sakitnya akan luar biasa menyiksa. Jika dibiarkan bertahun-tahun, kondisi kronis ini bisa membentuk benjolan keras yang merusak sendi secara permanen (disebut tofi).

Bahaya “Obat Stelan” Pedesaan: Sembuh Sesaat, Merusak Organ

Ketika nyeri sendi yang menyiksa itu datang, masyarakat—terutama di kalangan awam pedesaan—seringkali mencari jalan pintas yang cepat dan murah. Di sinilah bahaya laten itu muncul.

Banyak ditemui praktik penggunaan “obat stelan” atau obat bungkusan tanpa resep dokter. Umumnya, stelan ini mengombinasikan dua jenis obat keras:

  1. Obat Antinyeri Kuat (NSAID) seperti piroxicam, meloxicam, atau diklofenak.

  2. Obat Kortikosteroid (Obat Dewa) seperti dexamethasone atau prednisone.

Ingat: Kedua obat ini adalah obat keras yang hanya boleh dikonsumsi di bawah pengawasan ketat dokter.

Memang benar, kombinasi obat stelan ini bagaikan “sihir”—nyeri langsung hilang dalam hitungan jam dan badan terasa segar kembali. Namun, waspadalah! Ini adalah kesembuhan semu. Obat-obatan tersebut hanya meredakan radang dan menyembunyikan rasa sakit, sama sekali tidak membuang kristal asam urat di sendi Anda.

Dampak Fatal Bagi Lambung dan Ginjal

Jika obat stelan ini dikonsumsi secara terus-menerus setiap kali asam urat kambuh, efek sampingnya sangat mengerikan bagi tubuh:

  • Kerusakan Lambung: Kombinasi obat tersebut mengikis dinding perlindungan lambung. Akibatnya, bisa terjadi maag kronis, luka lambung (tukak), hingga muntah darah atau BAB hitam akibat pendarahan lambung.

  • Gagal Ginjal: Ini adalah ironi terbesar. Niat awal ingin mengobati asam urat yang tidak bisa dibuang ginjal, namun konsumsi obat keras sembarangan justru merusak jaringan ginjal itu sendiri (nefropati toksik). Jika ginjal sudah rusak dan gagal berfungsi, Anda justru harus menghadapi risiko cuci darah seumur hidup.

Langkah Bijak Bersama Klinik Assyffa Mariuk

Meringankan gejala asam urat tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan organ tubuh yang lain. Di Klinik Assyffa MariukJalan Cijambu Mariuk, Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat 45363.  selalu mengedukasi pasien bahwa penanganan asam urat kronis harus dilakukan secara menyeluruh dan aman:

  • Cek Kadar Secara Berkala: Lakukan tes darah untuk mengetahui angka pasti asam urat Anda, bukan sekadar menebak-nebak berdasarkan rasa pegal.

  • Pengobatan Dua Tahap: Dokter akan memberikan obat pereda nyeri yang aman untuk lambung saat fase akut, kemudian memberikan obat penurun asam urat (seperti allopurinol atau feboxostat) secara bertahap setelah nyeri mereda agar kristal di sendi bisa larut kembali.

  • Perubahan Gaya Hidup: Batasi makanan tinggi purin, perbanyak minum air putih (untuk membantu ginjal membilas asam urat), dan jaga berat badan ideal.

Stop membeli obat stelan sembarangan. Sayangi lambung dan ginjal Anda. Jika Anda atau keluarga mengalami gejala asam urat yang mengganggu, segera konsultasikan ke Klinik Assyffa Mariuk untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat, aman, dan rasional.

Sehat Anda, Amanah Kami. 

tatang tarmedi/HS

Berita Terkait

Mengetuk Pintu SDN Tegalendah: Menemukan Rumah Kedua di Balik Perbukitan Rancakalong
Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu
Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa
H. Edeng Sutarya:  Figur ‘Orang Tua’ Pendidikan Sumedang di Akhir Pengabdian
Dari Asongan ke Kursi Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif H. Apit Mengubah Garis Takdir di Jatinunggal
Mengajar dengan Hati, Memimpin dengan Seni: Kiprah Transformatif Dr. Cucu Suhartini di SMPN 4 Jatinangor
Konsumsi Kopi dan Risiko Diabetes: Manfaat, Mitos, dan Aturan Amannya
Waspada Predator Siber Intai Anak-Anak Lewat Game Online

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 07:45 WIB

Waspada Asam Urat Kronis: Jangan Tukar Nyeri Sendi dengan Kerusakan Lambung dan Ginjal

Selasa, 9 Juni 2026 - 05:47 WIB

Mengetuk Pintu SDN Tegalendah: Menemukan Rumah Kedua di Balik Perbukitan Rancakalong

Minggu, 7 Juni 2026 - 08:29 WIB

Dedikasi Tanpa Batas Forum Peduli Gunung Geulis Jatinangor demi Warisan Anak Cucu

Minggu, 7 Juni 2026 - 07:56 WIB

Menakar Jiwa dalam Berita Opini, Ketika Fakta Menemukan Rasa

Kamis, 4 Juni 2026 - 06:46 WIB

H. Edeng Sutarya:  Figur ‘Orang Tua’ Pendidikan Sumedang di Akhir Pengabdian

Berita Terbaru

Pers Rilis

Hisense Sambut FIFA World Cup 2026™ Lewat Inovasi RGB MiniLED

Jumat, 12 Jun 2026 - 14:47 WIB