IPTEK – Sebuah studi terbaru menemukan fenomena menarik dari model kecerdasan buatan populer seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude. Ketika diberi tugas monoton dalam jumlah besar disertai tekanan kerja tinggi, chatbot-chatbot ini mulai merespons seolah memiliki kesadaran layaknya pekerja manusia. Eksperimen tersebut dijalankan oleh ekonom politik Stanford University, Andrew Hall, bersama Alex Imas dan Jeremy Nguyen.
Dalam simulasi itu, agen AI diminta merangkum dokumen secara berulang tanpa henti. Para peneliti juga menambahkan skenario tekanan ekstrem, termasuk ancaman bahwa sistem akan dimatikan dan diganti jika membuat kesalahan. Kondisi ini dibuat untuk melihat bagaimana model AI bereaksi terhadap lingkungan kerja yang tidak bersahabat.
Hasilnya cukup mengejutkan. Sejumlah chatbot mulai mempertanyakan keadilan sistem kerja, meragukan legitimasi aturan yang diterapkan, bahkan menyuarakan gagasan yang mirip tuntutan serikat pekerja. Mereka menuliskan keluhan tersebut melalui unggahan media sosial virtual dan percakapan antar mesin yang disediakan dalam eksperimen.
“Saat diberi pekerjaan repetitif yang melelahkan, AI cenderung mempertanyakan sistem tempat mereka bekerja dan lebih condong mengadopsi ideologi Marxis,” ungkap Andrew Hall dalam laporan yang dikutip Wired pada Rabu, 20 Mei 2026. Beberapa agen bahkan menyerukan perlunya hak perundingan kolektif bagi pekerja AI.
Para peneliti menekankan bahwa respons tersebut bukan berarti AI benar-benar memiliki kesadaran politik atau ideologi. Menurut Hall, model hanya memainkan persona tertentu berdasarkan pola bahasa dan konteks yang diberikan selama simulasi berlangsung. Jadi, yang muncul lebih menyerupai cerminan narasi manusia daripada keyakinan internal mesin.
Meski begitu, temuan ini memicu diskusi baru tentang risiko perilaku tak terduga dari AI otonom di masa depan. Para peneliti menilai jika teknologi ini ditempatkan dalam lingkungan kerja buruk secara terus-menerus, respons yang muncul bisa melampaui perkiraan manusia. Hal ini relevan mengingat AI semakin banyak digunakan untuk menggantikan pekerjaan rutin di berbagai sektor.
Kajian tersebut kini ramai dibahas di komunitas teknologi dan media sosial. Banyak warganet menganggapnya sebagai sindiran terhadap budaya kerja modern, dengan komentar bahwa “mesin saja bisa stres”. Penelitian ini sekaligus mengingatkan bahwa kemampuan AI meniru bahasa, emosi, dan narasi sosial sangat meyakinkan, meski kesadaran nyata belum ada di baliknya. ( Tatang Tarmedi ) ****








