HARIANSUMEDANG.COM – Kepemimpinan di era modern sering kali diidentikkan dengan ketegasan yang kaku dan target pencapaian yang impersonal. Namun, pemandangan berbeda akan Anda temukan jika berkunjung ke SD Negeri Citali, Kecamatan Pamulihan. Di bawah komando Erawan Sukarya, S.Pd., sekolah ini tumbuh menjadi ruang belajar yang sejuk, kondusif, dan sarat akan nilai kekeluargaan.
Bagi Erawan, menjadi kepala sekolah bukanlah tentang menunjukkan otoritas atau berbicara seenaknya dari balik meja kerja. Ia memilih menempatkan diri sebagai sosok orang tua yang mengayomi. Kepada para guru dan staf, ia memperlakukan mereka layaknya anak sendiri—didengar, dibimbing, dan dirangkul.
“Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan karakter. Di SDN Citali, kami ingin anak-anak hebat secara akademik, namun tetap mengakar pada budaya Sunda dan memiliki akhlak mulia,” ujar Erawan dengan nada optimis.
Gaya kepemimpinan yang humanis ini berbuah manis. Lingkungan SDN Citali mengalir tenang, jauh dari riuh gosip miring atau bisik-bisik negatif dari masyarakat. Erawan berhasil menjaga integritas diri dan nama baik institusi yang dipimpinnya dengan sangat apik, menciptakan atmosfer kerja yang harmonis dan minim konflik.
Di tangan Erawan, SDN Citali tidak gagap menghadapi zaman. Ia mendorong sekolahnya untuk lebih aktif mengadopsi berbagai platform digital guna menunjang proses pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan bagi siswa. Kendati demikian, modernisasi tidak membuat mereka lupa daratan.
Sekolah ini justru tumbuh sebagai benteng pertahanan kearifan lokal dan budaya Sunda. Komitmen ini terlihat nyata dari kepemilikan beberapa unit alat seni Sunda yang aktif digunakan siswa. Kehadiran Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SDN Citali pun menjadi panggung kreativitas yang hidup. Mulai dari pameran karya seni daur ulang hingga pengenalan makanan tradisional, semua difasilitasi Erawan untuk memberikan ruang berekspresi seluas-luasnya bagi guru dan siswa.
Salah satu tantangan terbesar SDN Citali adalah keterbatasan fisik sekolah, di mana halaman sekolah nyaris tidak memiliki ruang tanah terbuka. Namun, keterbatasan bukanlah alasan bagi Erawan untuk menyerah pada isu lingkungan.Ia menginisiasi program inovatif bernama Sanak Menantu (Satu Anak Menanam Satu Pohon). Melalui program sekolah ramah lingkungan ini, setiap siswa diajak untuk bertanggung jawab atas satu tanaman, memanfaatkan media pot atau metode kreatif lainnya. Program ini berhasil mengubah wajah sekolah menjadi lebih asri sekaligus menanamkan kepedulian ekologis sejak dini.
Di kalangan rekan sejawat dan para guru di Kecamatan Pamulihan, Erawan dikenal sebagai sosok yang humble (rendah hati) namun tetap tegas dalam prinsip. Ia bukan tipe pemimpin yang hanya menerima laporan di atas kertas. Erawan kerap turun langsung mendampingi siswanya berlaga di berbagai ajang kompetisi, mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten.
Diluar prestasi akademik dan seni, salah satu warisan terbesar kepemimpinan Erawan Sukarya adalah komitmennya dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan (bullying). Dengan pendekatan persuasif dan penanaman akhlak mulia, SDN Citali berhasil membangun benteng moral yang kuat bagi para siswa.
Baca Juga:
Lebih Dari 17 Ribu Masyarakat Jawa Barat Rasakan Manfaat Program TJSL PLN*
SCIE Menunjukkan HILO WAVE® Mendukung Regenerasi Struktur Kulit Tanpa Memicu Respons Peradangan
Tidak heran jika saat ini, SD Negeri Citali menjelma menjadi salah satu sekolah dasar favorit yang mendulang kepercayaan penuh dari masyarakat di Desa Citali dan sekitarnya. Di bawah asuhan Erawan Sukarya, sekolah ini membuktikan bahwa dengan ketulusan, kepemimpinan yang mengayomi mampu melahirkan generasi yang cerdas otak, luhur budi, dan cinta budaya. ( Tatang Tarmedi ) ****







